SHARE

METROPOLITAN.ID | MARAKNYA kasus kejahatan seksual terhadap pada 2015 patut mendapat reaksi progresif dari semua pihak, khususnya dunia pendidikan. Hal itu sekaligus menjadi cermin lunturnya nilai-nilai kemanusiaan. Anak-anak yang seharusnya dijaga justru dieksploitasi. Tragisnya lagi, kebanyakan pelaku kejahatan seksual pada anak justru merupakan figur yang dekat, seperti keluarga, pendidik, dan lingkungan sosial di dekat anak. Jika kejahatan seksual pada anak tidak mendapat penanganan yang tepat, fenomena ini dapat menjadi tren yang semakin merebak. Padahal, anak-anak korban kejahatan seksual cenderung tumbuh menjadi pribadi yang rentan terhadap gangguan psikologis. Kasus kejahatan seksual telah berkembang semakin dramatis dan mirip fenomena gunung es. Cuma tampak di permukaan, tapi yang lebih besar lagi tak terlihat. Dampak jangka panjangnya, hal itu akan menutup pintu advokasi untuk memperjuangkan keadilan. Di sisi lain, pelaku pun tidak akan merasa jera sehingga cenderung mereproduksi kembali aksi kejahatan kepada anak-anak lainnya. Anak-anak membutuhkan pendidikan yang melindungi mereka dari kejahatan seksual. Rumah dan sekolah harus menjadi lingkungan yang aman bagi anak, dan hal itu membutuhkan peran sinergis dari berbagai pihak. Membentengi diri dari pornografi merupakan salah satu cara efektif yang harus dilakukan secara serempak. Sementara itu, anak sebagai individu yang inferior pun rentan menjadi sasaran empuk bagi para pelaku kejahatan seksual. Proses pengaruh materi-materi pornografi pada setiap individu berbeda antara satu dan lainnya.Ada yang menimbulkan efek minimal, tetapi juga ada yang berdampak maksimal hingga memicu tindakan kriminal seperti pemerkosaan, sodomi, pencabulan, dan tindak kejahatan seksual lainnya. Senada dengan hal ini, Sanjaya dkk (2010) memaparkan bahwa ahli bedah saraf di Amerika mengungkap terkait dengan kerusakan otak akibat kecanduan pornografi lebih berat jika dibandingkan dengan kecanduan yang lain.Tidak seperti kecanduan adiksi lainnya, kecanduan pornografi tidak hanya memengaruhi fungsi luhur otak, tetapi juga merangsang tubuh, fisik, emosi, serta diikuti perilaku seksualMemahami hal itu, dunia pendidikan dan rumah sebagai sekolah utama diharapkan mampu menjaga anak-anak dari tayangan pornografi.Dikhawatirkan, pornografi dapat mengganggu anak-anak atau remaja sehingga mengalami gangguan psikis dan kekacauan perilaku yang mirip dengan jika mereka mengalami pelecehan seksual.

Bekali Nilai Agama
Pendidikan seharusnya mampu membekali anak dengan nilai dan norma sehingga setiap menemukan kesempatan untuk menikmati pornografi, anak-anak akan memiliki perasaan tidak berminat, menghindar, dan menolak.Hal itu dapat ditempuh melalui pendekatan pendidikan agama sejak usia dini. Sebagai pendidik yang seharusnya memiliki abilitas untuk melindungi anak dari kejahatan seksual, semestinya para orang tua dan guru kembali membingkai ulang pemaknaan bahwa anak merupakan amanah dari Tuhan.Anak-anak memiliki hak untuk dilindungi, dididik, dan dibina untuk menjadi generasi penerus perjuangan. Anak-anak iklim pendidikan berbasis kasih sayang, cinta, dan penerimaan positif tanpa syarat.Dengan hal-hal positif itulah para pendidik akan mampu melindungi dan menjaga anak-anak yang berlindung di bawah naungannya. Sudah seharusnya semua pihak mengamini pernyataan Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang memaparkan bahwa Indonesia mengalami status darurat terkait dengan situasi kejahatan seksual terhadap anak.Kini, kejahatan seksual tidak hanya terjadi di luar rumah, tetapi juga di dalam rumah dengan predator orang-orang terdekat. Dunia pendidikan memiliki celah untuk terlibat aktif dalam menyelamatkan anak-anak dari ancaman kejahatan seksual. Mengajarkan pendidikan seks sejak usia dini merupakan salah satu alternatif cara untuk memayungi anak dari kejahatan seksual. Sejak dini, anak-anak harus mendapatkan pemahaman dan keterampilan untuk menjaga diri dan mengakses bantuan ketika dirinya terancam. Dengan soft skill itulah diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran diri untuk menjaga dan memperjuangkan hak-hak pribadi miliknya.

Dialog
Perlu digarisbawahi bersama bahwa anak-anak akan merasa aman berdialog dengan orang tua yang mampu berkomunikasi positif. Tanpa kemampuan itu, anak akan enggan untuk bercerita dan bernaung. Padahal, pendidikan seks usia dini di rumah hanya akan sukses bila anak memercayai orang tua sebagai figur yang aman untuk mengasuhnya. Orang tua perlu menyediakan quality time untuk anak. Pada kesempatan itulah anak-anak akan mulai menumbuhkan pemahaman bahwa orang tua merupakan tempat yang paling nyaman untuk mencurahkan perasaan. Ketika anak sudah merasa bahwa orang tua merupakan rumah jiwa yang paling aman dan nyaman, perbincangan mengenai seks pun akan dimulai. Anak-anak akan menanyakan bagian-bagian tubuhnya, termasuk organ vital yang harus dijaga. Pada saat itulah orang tua mengambil kesempatan emas untuk melakukan pendidikan seks pada anak. Perlu diingat bersama bahwa pada tahap ini, pendidikan seks berfokus pada mengenal organ tubuh dan menjaganya. Anak harus memahami bahwa tubuh adalah miliknya. Ia memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat. Selanjutnya, ketika anak memasuki masa puber, pendidikan seks pun berlanjut dengan tahapan yang lebih tinggi.Orang tua dan pendidik dapat membimbing anak-anak yang beranjak remaja untuk semakin menghargai tubuh dan menjaganya dengan lebih hati-hati. Seiring dengan perkembangan kognitif anak, orang tua dan guru perlu menjelaskan mengenai proses pubertas. Selain itu, anak-anak harus dilibatkan dalam aktivitas positif sambil tetap terus mendapatkan siraman rohani melalui aktivitas religius. Nilai-nilai kemanusiaan dan empati pun menjadi poin kunci dalam pendidikan seks (sehat). Seorang anak yang tumbuh di dalam tatanan nilai-nilai kemanusiaan dan empati akan memiliki karakter yang good and smart (baik dan cerdas).Adalah benar bahwa kejahatan seksual dilakukan oleh individu yang telah kehilangan sisi kemanusiaan dan keberadaban. Penting bagi semua pihak untuk senantiasa menghidupkan sisi kemanusiaan, empati, dan kesetiakawanan sosial. Saat ini pornografi mudah diakses oleh siapa saja. Pendidik dan orang tua diharapkan menjadi ujung penggerak pendidikan yang aman. Jangan sampai, orangtua dan guru justru melukai anak-anak dengan kejahatan seksual. Rupanya, para orang tua dan guru harus selalu menjaga kedekatan diri dengan Tuhan, sebab kedekatan dengan Tuhan secara alami akan memancarkan sikap-sikap positif dan meluhurkan sikap. Menyelamatkan anak Indonesia dari kejahatan seksual dapat dilakukan dengan peran pendidik dan orangtua yang mampu mencintai dan menjaga anak secara tulus tanpa syarat.(lmp)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY