SHARE

METROPOLITAN.ID | GUNUNGPUTRI – Tampaknya penjualan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) terhadap peserta didik di wilayah Kabupaten Bogor, khususnya di Kecamatan Gunungputri sudah tidak bisa dicegah lagi. Bahkan, diduga oknum Dinas Pendidikan (Disdik) turut bermain. Mungkin hal itu terjadi karena para pengelola pada satuan pendidikan telah melakukan ’Ijon’ (membeli sesuatu yang belum saatnya dijual, red) satu tahun pelajaran dengan distributor atau penerbit, sehingga distributor buku LKS lainnya tidak bisa menawarkan dan menjual ’dagangannya’ ke pihak pengelola pendidikan serta peserta didik.
Ini terjadi di wilayah kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Kecamatan Gunungputri, yaitu Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 dan 04 Wanaherang serta SDN 02 Cicadas. Modusnya, para murid disuruh membelinya di salah satu kios yang belakangan diketahui milik Rusdianto yang diduga sudah ditunjuk oknum guru mau pun kepala sekolah setempat. Pasalnya, tanpa membawa selembar kertas para murid sekolah tidak akan dilayani.
Menurut sejumlah orang tua murid kelas II SDN 01 Wanaherang berinisial US (35), harga buku LKS bervariasi tergantung kelasnya, paling rendah Rp100 ribu per paket. ”Buku LKS tidak dibeli di sekolah tapi di salah satu warung di Jalan Dewa Wanaherang, Kecamatan Gunungputri yang belakangan diketahui milik Rusdianto. Buku LKS tersebut akan dibeli setelah diberitahu guru mata pelajaran,” timpal orang tua murid kelas V berinisial LD (30) dengan polosnya kepada Metropolitan, kemarin.
Sementara itu, pemilik warung tersebut berdalih dan menampik kepada Metropolitan bahwa buku yang berada di tokonya tidak dijual untuk umum, melainkan pesanan beberapa guru di wilayah Desa Wanaherang. ”Saya tidak pernah bekerja sama dengan pihak sekolah. Jadi, silahkan Bapak cek,” tampik Rusdianto saat dihubungi via telepeon selulernya.
Ada dugaan, pemiliknya telah mendapat rekomendasi dari kepala SDN 01 dan 04 Wanaherang serta SDN 02 Cicadas atau pihak distributor sengaja menyewa toko tersebut dan bekerja sama agar pihak pengelola pendidikan tidak dituding telah menjual buku LKS. ”Kalau tidak disuruh oknum pendidikan, mana mungkin orang tua murid mau membeli buku LKS anaknya di kios itu. Orang tua murid kan belum tahu buku LKS apa saja yang akan dipelajari anaknya,” tandas orang tua murid.
Sampai saat ini, pimpinan UPT Pendidikan Kecamatan Gunungputri belum bertindak tegas terhadap oknum-oknum pengelola pendidikan yang telah bermain dengan pihak toko tersebut. ”Katanya ada larangan dari Disdik Kabupaten Bogor tapi masih ada saja oknum kepsek yang berani bekerja sama dengan distributor. Padahal, sudah jelas ada larangan dari pemerintah,” pungkasnya.
Ketika permasalahan tersebut hendak dikonfirmasi, kepala UPT Pendidikan Kecamatan Gunungputri, kemarin, tidak ada di ruang kerjanya. Menurut staf di kantor itu, beliau sedang ke Disdik. (leo/tur/ar/ram/run)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY