SHARE

METROPOLITAN.ID | Berbagai aliran menyimpang dinilai tumbuh subur di Indonesia. Apa pun jenis alirannya, biasanya mereka memiliki kesamaan yakni bertujuan menjauhkan orang Islam dari nilai-nilai keislamannya. Aliran menyimpang kerap memanfaatkan keawaman masyarakat Indonesia terhadap nilai-nilai keislaman. Khusus di Jakarta dan sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi,  semangat belajar masyarakat terhadap keislaman sangat tinggi. Sayangnya tingginya animo belajar ini terbentur oleh dua jenis pengajian yang membuat masyarakat tidak puas. Pertama yang jenisnya terlalu tradisional seakan beragama itu kaku. “Ketika masyarakat menemui ini, yang mereka rasakan hanyalah antipati belajar Islam, akhirnya mereka menganggap beragama itu jumud (beku dan statis),” ujar pembicara kajian Islam tadabbur Alquran Parwis L Palembani kepada Republika.co.id, Senin (11/1). Jenis pengajian kedua yakni liberalis yang terlalu menggampangkan dan menyepelekan agama. “Ketika ada kegalauan belajar Islam, maka penganut aliran menyimpang datang dan memanfaatkan kesempatan ini,” kata Parwis. Untuk itu, para dai bertugas menyajikan Islam yang tidak berat ke kanan atau kiri. Dia mengajak seluruh dai untuk menjadi pengajar, bukan sebagai pembela kelompoknya masing-masing. Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) disebut-sebut sebagai aliran menyimpang yang belakangan tumbuh di Indonesia. Menurut Parwis, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah bergerak melakukan antisipasi dan penelitian soal gerakan tersebut. Dia menjelaskan, Gafatar belum terlalu booming dibanding aliran menyimpang lainnya. Dia menduga, MUI enggan mengangkat aliran ini lebih jauh ke permukaan lantaran tidak ingin menimbulkan keresahan di masyarakat. Menurut Parwis, gerakan apapun yang berkaitan dengan Islam apabila menyimpang dari rukun iman dan Islam, maka dapat dikatakan sebagai aliran menyimpang.(rep)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY