News, Sport and Lifestyle

Periskop 2016: Belum Akan Ada Damai di Suriah

METROPOLITAN.ID | BERAWAL dari protes menentang Pemerintahan Presiden Bashar Al Assad yang muncul seiring gelombang Arab Spring pada 2011, konflik di Suriah berkembang menjadi sebuah arena perang skala besar yang melibatkan berbagai negara empat tahun kemudian. Selama jangka tersebut, tidak kurang dari 220 ribu orang kehilangan nyawanya, sedangkan ratusan ribu bahkan jutaan lainnya terluka dan terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.Konflik ini juga mengakibatkan konsekuensi yang begitu besar pada dunia internasional, tidak hanya kawasan Timur Tengah yang menjadi pusatnya, namun juga Benua Eropa yang harus menerima pengungsi yang melarikan diri dari negaranya akibat perang. Menurut data dari International Organisation for Migration (IOM) yang dilansir BBC (22/12/2015) jumlah pengungsi Suriah yang memasuki Eropa melalui jalur darat dan laut mencapai 1.006.000 orang.Sejak 2011, konflik di Suriah juga berkembang dengan cepat. Dari sebuah protes anti pemerintah, menjadi perang sipil hingga berkembang menjadi konflik sektarian antara Sunni dan Syiah yang melibatkan banyak pihak yang bertikai. Kebangkitan kelompok militan ISIS di negara itu juga menyeret dunia internasional untuk terjun ke medan pertempuran.Setidaknya ada empat negara dunia yang memainkan peran sentral dalam konflik di Suriah pada 2015. Amerika Serikat (AS) yang telah terlibat sejak 2011, Rusia yang masuk ke Suriah pada 2015 dengan alasan untuk memberikan bantuan rezim Assad melawan ISIS, Iran yang merupakan sekutu terdekat pemerintah minoritas Syiah pimpinan Presiden Assad dan Arab Saudi yang menyokong pemberontak Sunni Suriah dengan bantuan finansial dan persenjataan.Mereka terbagi menjadi dua kubu yang saling bertikai, AS, Arab Saudi dan sekutu-sekutunya yang beranggotakan negara-negara Sunni menginginkan rezim Assad untuk lengser dengan berbagai alasan, salah satu yang paling sering disebutkan adalah karena alasan kemanusiaan dan kejahatan perang. Di lain pihak, Rusia dan Iran yang merupakan sekutu dekat Suriah tidak menginginkan hal itu terjadi.Pihak – pihak yang bertikai mencoba untuk menyelesaikan konflik berdarah tersebut dan mengesampingkan perbedaan mereka dengan mengadakan pembicaraan damai. Meski mendapatkan kemajuan yang cukup positif, seperti kesetujuan AS untuk berkompromi dengan Rusia mengenai nasib rezim Assad, namun pada dasarnya pandangan mereka tidak berubah dan tetap menginginkan putra dari diktator Hafez Assad itu turun dari jabatannya.(OKZ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *