SHARE

METROPOLITAN.ID | PAMIJAHAN – Paham Al Qiyadah Al Islamiyah pernah ramai diperbincangkan beberapa tahun lalu saat muncul orang bernama Ahmad Musadeq yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Vila yang nampak asri, dipenuhi pepohonan dan tiga kolam renang itu menjadi saksi sang nabi palsu menggelar ritualnya. Ahmad Musadeq pun kembali mencuat setelah disebut-sebut sebagai salah satu pendiri Organisasi Massa (Ormas) Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).
Ketua RT 03/09, Desa Gunungsari, Pamijahan, Salahudin, mengaku terkejut saat mendengar aliran yang berkaitan dengan Musadeq. “Aliran apa pun namanya, dari dulu warga di sini taat dengan agama Islam. Setahu saya dia sempat ke Aceh mendirikan suatu organisasi yang beranggotakan anak muda. Kegiatannya itu olahraga dan kesenian,” bebernya kepada Metropolitan, kemarin.
Ia menceritakan, dulu saat pertama kali masuk ke kampung ini, Musadeq merupakan orang yang pandai bersosialisasi dengan warga. Perilakunya sopan, selalu berpeci dan murah senyum.
“Kami tidak menyangka, di balik kebaikannya ada ajaran sesat yang dibawanya. Kami kenal Ahmad Musadeq itu dengan nama Abdul Salam,” tegasnya sambil menunjukkan sebuah rumah yang dulu pernah ditempati nabi palsu tersebut.
Sementara warga lainnya, Ari Wibowo, mengungkapkan, dirinya menjadi salah satu saksi hidup sekaligus orang yang melarang keras aliran sesat masuk ke kampung yang memiliki syariat Islam yang kental itu.
“Saat ini aliran Musadeq sendiri sudah tidak ada. Ketika Musadeq masuk ke wilayah Pamijahan, mereka merekrut anggotanya dari luar Pamijahan,” tutur pria 39 tahun itu.
Sekadar diketahui, Musadeq saat itu merekrut banyak orang dan mengajarkan ajaran yang dianggap menyimpang, termasuk dalam tata cara beribadah. Al Qiyadah Al Islamiah dinyatakan organisasi terlarang dan akhirnya dibubarkan. Ahmad Musadeq sendiri pernah tinggal di Kampung Cimudal, RT 03/09 dan RW 08, Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, di tengah kawasan wisata alam Gunung Salah Endah (GSE).
Namun saat ini, rumah itu nampak tidak terawat dan sudah dijual kepada orang lain setelah sang pemilik ditangkap pada 2006. Vila yang memiliki luas 4.000 meter persegi itu dulu menjadi tempat berkumpulnya Musadeq dengan para pengikutnya.(ads/b/yok/py)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY