SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta – Untuk melakukan pengecekan identitas pada jenazah korban ledakan dan tembakan di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, sejumlah keluarga korban mendatangi RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Salah satunya adalah Joko Mulyanto (46) orang tua Riko Hermawan (20) yang diduga menjadi korban tewas ledakan, Kamis (14/1) kemarin.Dia didampingi kerabatnya mendatangi pos ante mortem di RS Polri untuk diambil sampel air liurnya sebagai tes DNA. Menurut adik Joko, Sigit Mulyana (34), Riko adalah sepupu Anggun (24) yang menjadi korban luka akibat ledakan kemarin. Pascaledakan hanya Anggun yang diketahui keberadaannya dan saat ini masih dirawat di RSPAD Gatot Subroto.”Riko dihubungi tidak bisa dari kemarin. Kami cari ke rumah sakit-rumah sakit juga tidak ada, akhirnya kami ke sini tes DNA,” kata Sigit di RS Polri, Jumat (15/1). Bahkan Sigit mengaku sempat melaporkan berita kehilangan ke Polsek Kramat Jati.Dia menuturkan, pada saat kejadian Riko dalam perjalanan pulang setelah menjemput Anggun melamar kerja di daerah Jakarta Pusat. Menurutnya, Anggun adalah warga Kendal, Jawa Tengah yang menginap di rumah Riko untuk mencari kerja di ibu kota. Keduanya berboncengan sepeda motor melintas kawasan Thamrin.Dari pengakuan Anggun, lanjutnya, mereka kemudian dicegat polisi karena melintas di Jalan MH Thamrin yang mestinya tidak boleh dilintasi sepeda motor. Riko kemudian memarkirkan motornya di depan Starbucks yang juga menjadi lokasi ledakan.Keduanya kemudian berjalan ke pos polisi di perempatan jalan depan Sarinah. Riko jalan mendahului Anggun yang tengah sibuk memainkan ponselnya. “Begitu masuk pintu pos polisi itulah kemudian ada ledakan. Anggun yang berjarak sekitar tiga meter dari pos polisi terkena serpihan ledakan di kaki kanannya,” ungkap Sigit.Menurutnya, Anggun kemudian dievakuasi ke RSPAD Gatot Subroto dan ditemukan ada banyak paku sepanjang lima sampai tujuh centimeter di sepanjang kaki kanannya. “Setelah itu Riko tidak tahu kabarnya. Sepeda motornya yang diparkir depan Starbucks juga sudah tidak ada,” katanya.Petugas Disaster Victim Identification (DVI), Nugroho, mengatakan, pengambilan air liur ini diambil dari anggota keluarga dalam garis keturunan vertikal. “Jika korbannya adalah anak, sampel untuk pemeriksaan DNA bisa diambil dari orang tua, atau sebaliknya,” jelasnya.Dia menambahkan, seluruh pemeriksaan identitas korban dari keluarga dilakukan di pos ante mortem. Pemeriksaan yang diambil, menurutnya, bukan hanya sampel DNA tapi juga dokumen identitas korban.Nantinya hasil data itu dicocokkan dengan data yang diperoleh dari pemeriksaan post mortem yang diambil dari jenazah korban. “Pemeriksaan semacam ini butuh waktu tidak sebentar. Kita tidak bisa langsung percaya kalau ada keluarga yang melapor dengan memberikan identitas saja, tapi harus diambil sampel DNA dan bukti lain yang melekat,” urainya.(BERITASATU)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY