SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta – Subdit Jatanras Polda Metro Jaya, sedang menyusun teka-teki penyelidikan terkait kasus tewasnya Wayan Mirna Salimin (28), usai meminum kopi di salah satu restoran atau kafe, di Grand Indonesia, Tanah Abang, Jakarta Pusat.”Nanti semua yang terkait harus diperiksa. Yang mengalami, mengetahui, melihat, mendengar, semua diperiksa,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Krishna Murti, Minggu (10/1).Dikatakan Krishna, pemeriksaan saksi-saksi bakal segera dilakukan untuk mengkonstruksi penyelidikan dan penyidikan.”Besok kami memeriksa, duduk bersama, antara kawan-kawannya, karyawan kafe, keluarga, kami duduk bersama. Kami pra rekonstruksi sebelum mengkonstruksi bangunan penyidikan kasus ini,” ungkapnya.Krisna menyampaikan, Polda Metro Jaya baru kemarin malam turun langsung melakukan penyelidikan. Awalnya, dari mendengar rumor di media sosial.”Lalu, kami cari langsung. Ternyata ada laporan di Polsek Tanah Abang. Tanah Abang sudah melakukan beberapa langkah, namun terkendala masalah autopsi. Kemudian, kami turun. Setelah orang tua mendapat keyakinan, korban dapat diautopsi,” jelasnya.Ia menegaskan, penyidik saat ini akan mengkonstruksi arah penyelidikan kasus ini. “Apabila ada peristiwa pidana langsung kami upayakan menjadi terang benderang dan ungkap pelakunya,” katanya.Krishna menyampaikan, polisi harus memiliki kecurigaan. Karena, memang seperti itu cara kerjanya.”Misalnya, kita curiga jangan-jangan kopi beracun, curiga korban alergi kopi, curiga dia minum sesuatu sebelum minum kopi, curiga ada yang menaruh sesuatu, itu boleh. Nanti dibangun dari keterangan-keterangan alat bukti. Semua yang ada di situ kami periksa. Jangan-jangan ada juga orang di bangku lain,” katanya.Krishna melanjutkan, penyidik melihat korban meninggal tidak wajar setelah minum kopi. Karena itu, sampel kopi yang diminum dikirim ke Laboratorium Forensik Polri bersama dengan pembanding kopi-kopi lain yang ada di sana.”Kemudian, alhamdulillah keluarga korban sudah menyetujui diautopsi. Sudah dilakukan, diambil sampel hati, empedu dan lambung kami kirimkan ke laboratorium forensik. Dan, nanti kami akan mendapatkan informasi yang bisa menjadi alat bukti yang projusticia menjelaskan tentang sebab-sebab kematian korban. Secara informal kami sudah dapat, namun kami tidak bisa sampaikan,” katanya.Menyoal apakah korban dibunuh, diracun, atau sakit alergi, Krishna mengaku belum mengetahuinya.”Nanti hasilnya itu akan kami tanyakan ke dokter forensik, ahli kimia forensik, ahli racun. Kemudian, dianalisa nanti baru ada gambaran sebab kematian. Itu pun tidak cukup. Kami akan rangkai dari keterangan saksi, dokumen, CCTV, dan lainnya. Jadi belum ada kesimpulan ini pembunuhan,” tandasnya.(BS)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY