SHARE

METROPOLITAN.ID | NANGGUNG – PT Antam terus memperketat kawasannya dari ulah penambang liar atau gurandil. Terlebih, kerugian yang dialami PT Antam sangat besar, terutama di titik vital yang banyak dilalui gurandil.
General Manager PT Antam Tbk I Gede Gunawan mengatakan, penambangan emas ilegal itu telah berlangsung sejak 1998. “Potensi kerugian PT Antam bisa mencapai Rp1 triliun per tahun akibat pencurian tersebut,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.
Ia juga mengaku sempat melakukan penghitungan potensi kerugian, yakni pada 2012-2013, saat PT Antam kehilangan cadangan emas sekitar 1,6 ton emas atau jika diuangkan mencapai Rp801 miliar. Tak hanya itu, para gurandil juga merusak lingkungan dengan mencemari aliran Sungai Cikaniki yang melintasi kawasan PT Antam. “Gurandil juga menggunakan pengolahan ekstraksi emas sianida,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Bogor AKBP Suyudi Ario Seto mengatakan, upaya jajarannya menghentikan penambangan liar di Gunung Pongkor belum berhenti lantaran masih ada warga yang nekat mencari emas di wilayah penambangan PT Antam.
“Bahkan, petugas juga sudah menutup lima akses jalan gurandil di Kampung Pasirpasang, Bantarkaret, Gudanghandak, Pongkor, Blok Cepak Puspa di Desa Cisarua dan Kampung Kopo, Desa Malasari, namun masih ada gurandil yang nekat,” tuturnya.
Ia menambahkan, proses kesadaran hukum kepada masyarakat dan eks gurandil harus terus ditingkatkan agar warga mengerti dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.(ads/b/yok/py)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY