SHARE

METROPOLITAN.ID | Teheran – Pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi dengan Teheran tidak akan merugikan Iran atau merusak pembangunannya. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara pemerintah Mohammad Bagher Nobakht, Selasa (5/1).Nobakht menyampaikan pernyataan tersebut setelah Riyadh memutuskan hubungan sebagai bentuk protes terhadap serangan yang menghantam kedutaan besar dan konsulat Saudi oleh para demonstran Iran, yang marah atas eksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr di Arab Saudi.Langkah Saudi ini disusul oleh Bahrain dan Sudan yang ikut memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Sementara itu, sejumlah negara Arab lainnya menarik utusan-utusan mereka, sebagai bentuk simpati dengan Riyadh.Adapun Kuwait menjadi negara terakhir yang menarik duta besarnya dari Iran untuk memprotes serangan yang dilakukan demonstran Iran ke bangunan-bangunan diplomatik Saudi. Duta besar Iran juga dipanggil untuk menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap serangan itu.Meski demikian, pihak emirat tidak mengusir utusan diplomatik atau menurunkan level hubungan diplomatik dengan Iran.Menurut laporan kantor berita resmi KUNA, Wakil Menteri Luar Negeri Kuwait Khhaled al-Jarallah menyebutkan bahwa duta besarnya menyerahkan memorandum yang mengecam serangan dan meminta Iran untuk menghormati kewajiban-kewajiban internasional.Dia juga menyatakan dukungan Kuwait terhadap Arab Saudi dalam langkah-langkah untuk menjaga keamanannya.Meski banyak negara-negara yang memutus hubungan diplomatik dengan Iran, namun menurut Nobakht, hal ini tidak berdampak pada pembangunan nasional Iran. Bahkan sebaliknya, Arab Saudi yang akan menderita.Sang juru bicara juga kembali melontarkan kritik keras Teheran terhadap eksekusi Nimr, Sabtu (2/1). “Kami mengecam ekskusi yang tak manusiawi, barbar seperti yang dilakukan Daesh (kelompok Islamic State atau Negara Islam),” kata Nobakht.Nobakht juga membandingkan sikap tak dewasa Riyadh dalam menanggapi serangan dengan sikap Iran yang berusaha menahan diri setelah 464 jamaah calon haji asal negerinya tewas saat berdesak-desakan dalam proses pelaksanaan Haji, pada September.Sementara itu Perdana Menteri (PM) Turki Ahmet Davutoglu, Selasa, menyampaikan negaranya siap melakukan segalanya untuk membantu meredakan ketegangan yang berkobar anatara Saudi dan Iran, setelah Ankara menyatakan tanda bahaya atas konsekuensi dari pertikaian antara dua kekuatan Muslim di kawasan itu.“Kami berharap semua negara di kawasan itu menunjukkan akal sehat dan mengambil langkah-langkah yang bertujuan meredakan ketegangan di kawasan itu,” ujar Davutoglu kepada anggota partainya dalam sebuah pidato di Ankara.(BERSAT)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY