Rumah Warga Bogor eks Gafatar Digeledah

by -2 views

METROPOLITAN.ID – Rumah mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Kampung Nanggewer, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, digeledah petugas, kemarin. Di rumah milik pasangan Sugandi (50) dan Ayu (48) itu petugas Koramil dan pihak pemerintah setempat menemukan tiga buku tentang Gafatar.
Informasi yang dihimpun, buku berjudul ”Profil Singkat Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara” dan buku ”Pendidikan Dasar Orang Tua”. Ketiga buku bergambar Gafatar itu kemudian diamankan petugas Koramil Cibinong.
Orang tua Ayu, Nur Aini (80), mengaku anaknya bersama suami dan cucunya berangkat sejak dua bulan lalu. Namun, Nur tidak tahu apa yang dilakukan anaknya tersebut.
Setelah bergabung dengan Gafatar, banyak perubahan yang terjadi pada Ayu dan suaminya itu. Ketua RW 01, Kelurahan Nanggewer, Abdul mengatakan, sejak bergabung Gafatar, anak-anak Sugandi tidak bersekolah. Padahal, me­nurutnya, istri Sugandi seorang guru SMP. ”Anak-anaknya malah nggak sekolah,” katanya.
Tak hanya itu, menurut Abdul, keluarga Sugandi jadi tertutup dan tidak berbaur dengan warga sekitar. ”Sudah lama, semenjak nikah dia tinggal di sini,” imbuhnya.
Sebanyak 40 mantan anggota Gafatar asal Kabupaten Bogor kemarin dijemput dari lokasi penampungan di Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Bambu Apus, Jakarta Timur, kemarin.
Kepala Bidang Sosial, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bogor Lenny Rachmawati mengatakan, warga yang berada di penampungan yakni 1.124 jiwa yang sudah dipulangkan dari Kalimantan.
Dari total itu, 40 jiwa di antaranya merupakan warga Kabupaten Bogor. Lenny mengatakan, mantan Gafatar asal Provinsi Jawa Barat termasuk Kabupaten Bogor dibawa ke Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat untuk dilakukan pendataan ulang.

BERTEMU ANAK
Sementara itu di lokasi pe­nampungan, seorang ibu menemukan anaknya yang bergabung dengan Gafatar. Hal ini dialami Sarah (70) yang sudah enam bulan tak bertemu anak keduanya berinisial A.
Sarah datang ke panti ditemani anak bungsunya Rizal dan keluarganya. Awalnya ia sempat ditolak A, namun dengan bantuan dari petugas akhirnya A mau menemui mereka.
Istri Rizal, Rina mengatakan, kakak iparnya, A, seorang arsitek. Awalnya bekerja di Sulawesi. “Dia kan arsitek suka bikin proyek lama di Palu. Dia banyak proyek kenapa banting stir jauh banget jadi petani,” kata Rina.
Menurut dia, kakak iparnya ini bahkan sempat mengajak keluarga yang lain mengikuti aliran Gafatar, namun pihak keluarga menolaknya. ”Sempat suami ke rumah kakak. Di sana ada orang-orang Gafatar, mungkin ada ustadznya. Kalau mau ikut ajaran lebih lanjut tanda tangan. Suami saya nggak mau terus pulang,” jelas Rina.
Rina mengaku melihat gelagat yang aneh dengan aliran yang dipercayai keluarga kakak iparnya ini. Ia mencatat ada beberapa keanehan. ”Tadinya dia salat jamaah dia nggak salat, tadinya puasa nggak puasa, tadinya istrinya pakai jilbab sekarang buka jilbab. Dari keluarga nggak kepengaruh, dia saja,” paparnya.
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, Gafatar memiliki struktur pemerintahan sendiri. ”Mereka punya gubernur, kepala bagian. Mereka punya struktur pemerintahan sendiri,” kata Badrodin.
Badrodin menjelaskan, teman itu didapatkan dari laptop dan dokumen yang ditemukan di kamp di Mempawah. ”Mereka ingin membentuk negara sendiri,” tegasnya. (de/tib/er/wan)

Loading...