News, Sport and Lifestyle

Sebatang Kara, Nenek Saminah Hidup dari Belas Kasih Warga

METROPOLITAN.ID | JAKARTA – Saminah (74), hidup hanya dengan memanfaatkan belas kasihan warga yang melintas di Jalan Robusta, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, tepatnya di samping toko kue Majestyk.

Menurut warga dan pedagang yang berjualan di lokasi tersebut, setiap harinya Nenek Saminah hanya duduk di trotoar berbekal sebuah kardus berisi uang belas kasihan warga.

Salah seorang pedagang, Samsul mengatakan, nenek Saminah mulai terlihat di lokasi pada pukul 16.00 sampai dengan 23.00.

“Saya jualan di sini empat tahun, dia sudah ada. Sebelum pulang dia nyapu jalan di sekitar dia duduk. Dia nggak mengemis, cuma warga kasihan saja. Dikasih duit syukur, nggak ya nggak apa-apa,” kata Samsul, Senin (11/1/2016).

Nenek Saminah diketahui mengalami gangguan pendengaran. Ia mengaku punya kontrakan di tempat pembuangan sampah (TPS) belakang TPU Pondok Kelapa, dekat Kanal Banjir Timur (KBT).

“Nama saya Saminah, asli Brebes. 11 tahun di sini. Kalau sudah nggak ramai pulang. Kontrakannya di sana, Rp 300.000 per bulan, di tempat banyak gerobak sampah,” ucap Saminah sambil menunjuk arah kontrakannya.

Saminah mengatakan, bulan puasa tahun lalu suaminya meninggal dunia. Kini dia hidup sebatang kara.

“Keluarga nggak punya, suami meninggal bulan puasa kemarin.Nggak punya anak, nggak punya saudara,” kata Saminah.

Menurut Saminah, setiap kali ingin pulang ke kontrakan, ia sering berhadapan dengan pemuda yang kerap mabuk di sekitar KBT tak jauh dari kontrakannya.

“Kalau mau pulang ke rumah, dipukul orang mabok. Dimintainduit, saya jatuh, diinjak,” ujar Saminah.

Kepala Dinas Sosial Kecamatan Duren Sawit, Dewi mengatakan, biasanya penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) seperti Nenek Saminah tidak mau dibawa ke panti karena sudah terbiasa dengan belas kasihan pengguna jalan dan warga.

Meski demikian, pihaknya berjanji akan mendatangi tempat Nenek Saminah mangkal untuk menggali informasi dan mencari tahu latar belakang nenek Saminah.

“Kita perlu tahu kondisinya, lingkungan di sekitarnya seperti apa. Kita juga akan tanya pengurus RT setempat. Karena biasanya mereka nggak mau dibawa ke panti, terbiasa seperti itu. Mereka terbiasa memanfaatkan rasa iba warga,” tutur Dewi.(KMPS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *