News, Sport and Lifestyle

SIM D buat Kaum Difabel

METROPOLITAN.ID | BOGOR – Mempunyai kekurangan fisik, tak menghalangi keenam laki-laki penyandang tunadaksa ini untuk tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Terlebih berkendara merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh Wawang Sunarya (33), Agus Ruyadi (32), Untung Gandasari (35), Irfan Hadi Prasetyo (19), Makmur Napitupulu (60) dan Wawan (37). Karena dalam kesehariannya meraka ada yang bekerja dan mempunyai jarak yang cukup jauh.
Kanit Regident Polres Bogor Kota Iptu Fitria Wijayanti mengatakan, permohonan pengurusan SIM D yang berlangsung kemarin secara kolektif dikawal organisasi pemberdayaan difabel bernama Diffable Action. Terdapat enam pemohon kolektif dari rekan difabel tunadaksa. Namun, kemarin baru direalisasikan tiga orang. “Mekanismenya sama dengan SIM jenis lain. Tapi biaya lebih mu­rah yaitu sebesar Rp50 ribu di luar biaya pemeriksaan kesehatan,” ujar Fitria kepada Metropolitan, kemarin.
Kendaraan yang digunakan dibawa masing-masing pemohon. Karena Polres Bogor belum menyediakan kendaraan khusus untuk penyandang tunadaksa. Terlebih kebutuhan kendaraan setiap anggota defabel action ini berbeda-beda. “Motor yang digunakan modifikasi, kita belum menyediakan yang seperti itu. Ukuran motornya pun besar, jadi jarak rintangan di lintasan ujian praktik kami perlebar,” terangnya.
Fitria menyadari, masih banyak penyandang tunadaksa di Kota Bogor yang membutuhkan legalitas dalam mobilitasnya. Menurut dia, untuk ke depan Polres Bogor Kota akan melakukan sosialisasi mekanisme pembuatan SIM D sekaligus tata tertib berlalu lintas untuk para rekan difabel. “Bagi rekan difabel lain yang ingin mengurus SIM D, silakan datang ke Polres. Pasti kami fasilitasi asalkan membawa persyaratan yang sudah ditentukan,” katanya.
Sementara itu, juru bicara Diffable Action Isnurul Naeni menjelaskan, pembuatan SIM ini merupakan bentuk kesadaran para penyandang disabilitas karena menginginkan adanya kesetaraan dengan orang normal lainnya. “Teman-teman difabel ingin kesetaraan dalam segala hal. Tidak hanya hak, tetapi kewajiban juga yakni dalam bentuk membuat SIM D,” jelasnya.
Isnurul menyatakan, tidak ada perbedaan mekanisme antara orang normal yang hendak membuat SIM dengan kaum difabel yang ingin memperoleh SIM D. Perbedaannya hanya terletak pada kendaraan yang digunakan untuk ujian praktik.
Setiap penyandang difabilitas yang ingin membuat SIM D membawa kendaraan masing-masing. “Dari tes kesehatan, tes teori sampai tes praktik pun sama dengan orang normal. Cuma kendaraan bawa sendiri karena tidak ada kendaraan khusus yang disediakan dalam ujian praktik,” tandasnya. (mam/b/ram/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *