News, Sport and Lifestyle

Tabrak Tata Ruang, Tangsel Batasi Mal

METROPOLITAN.ID | TANGSEL – Maraknya pembangunan hotel, apartemen dan pusat perbelanjaan atau mal di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berdampak pada tata ruang wilayah. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel berinisiatif untuk membatasi pertumbuhan apartemen dan pusat perbelanjaan modern.
Kepala Kantor Penanaman Modal Daerah (KPMD) Kota Tangsel Oting Ruhiyat mengatakan, pembangunan apartemen dan pusat perbelanjaan modern di Kota Tangsel tercatat cukup massif pembangunannya.
“Pembangunan hotel, apartemen dan mal sudah terlalu banyak dan perlu dibatasi. Hal ini untuk mengedepankan fungsi tata ruang wilayah kota,” katanya kepada wartawan, Kamis (21/1).
Ia menambahkan, pembatasan tersebut lebih kepada pertimbangan menjaga persaingan dagang agar tetap sehat. Tak hanya itu, banyaknya jumlah gedung-gedung tinggi misalnya apartemen, juga dinilai seringkali menabrak peraturan tata ruang.
“Pembatasan ini juga untuk menjaga persaiangan bisnis antara pihak properti. Banyaknya gedung-gedung di Tangsel sering juga menabrak aturan tata ruang. Maka perlu adanya minimalisasi proses perizinan,” ujarnya.
Kendati demikian, dirinya menyadari bahwa permintaan apartemen terutama di Kota Tangsel cukup tinggi karena wilayah Tangsel sangat strategis di antara ruas jalan utama misalnya TB Simatupang, Ciledug, Bandara Soekarno Hatta dan Bogor.
Dalam beberapa tahun terakhir, lanjutnya,  Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi portofolio KPMD Kota Tangsel dibandingkan Penanaman Modal Asing (PMA). Sejak Kota Tangsel resmi berdiri yakni 2008 hingga 2014, realisasi investasi baik dari PMA dan PMDN senilai Rp36,7 triliun. “Sektor properti, perdagangan dan jasa merupakan tiga sektor yang paling diminati investor,” tambahnya.
Pada tahun ini, KPMD Tangsel sendiri membidik kenaikan investasi hingga 15 persen dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Kota Tangsel sebesar 8,4 persen. Ia mengungkapkan, target tersebut tergolong tidak ekspansif karena memperhitungkan kondisi ekonomi nasional yang belum stabil dan fluktuasi nilai tukar rupiah. (ded/sal/run)

“Untuk tahun lalu, nilai investasi belum selesai dihitung. Tetapi, kami memprediksi adanya kenaikan mencapai 10 persen dari realisasi investasi pada 2014 senilai Rp7,5 triliun,” tuturnya.

Dalam jangka panjang, pihaknya berupaya mendorong pelaku bisnis yang saat ini berada di Jakarta untuk merelokasi investasinya ke Tangsel. Pasalnya, kondisi kemacetan di Jakarta dianggapnya sudah cukup parah.

Guna memfasilitasi tersebut, Oting menuturkan, sejumlah pusat bisnis misalnya Alam Sutera, BSD, dan kawasan Bintaro dapat menjadi pilihan investasi yang menggiurkan bagi pelaku bisnis. Bahkan, dirinya berambisi untuk mendorong Tangsel menjadi Singapura-nya di Indonesia. Meski terkendala keterbatasan lahan, dirinya meyakini Tangsel memiliki modal untuk menjadi pusat kawasan bisnis.

“Sudah ada beberapa kawasan bisnis yang berada di Tangsel. Proses produksi, dan logistik bisa dilakukan di luar, tetapi pusat bisnisnya berada di Tangsel. Itu yang kami impikan,” ungkapnya. (ded/sal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *