SHARE

METROPOLITAN.ID | Eks jihadis Machmudi Hariono yang pernah terlibat kasus penyimpanan bom rakitan dan bahan peledak di Semarang 2003 silam (dikenal dengan bom Si Rejeki) mengaku, tak ada pembinaan khusus yang dilakukan pihak lembaga pemasyarakatan (lapas) kepada para narapidana (napi) kasus terorisme.”Pengalaman saya pribadi selama mendekam di Lapas Kedungpane Semarang, tidak ada pembinaan itu. Paling-paling kunjungan dari BNPT sebulan sekali sekitar 1-2 jam. Itu pun tentang masa hukuman,” ujar Machmud Hariono yang dulu memiliki nama alias Yosep Adirima alias Yusuf ini dalam perbincangan dengan SP, Minggu (17/1) malam.Machmudi Hariono ditangkap dan diadili bersama tiga tersangka lainnya, yakni  Heru Setiawan alias Suyatno, Luluk Sumaryono alias Joko Ardianto, dan Siswanto alias Antopada 2003 silam setelah terbukti menyimpan bom rakitan dan bahan peledak di Jl Taman Sri Rejeki Selatan VII/2, Kalibanteng Kidul, Semarang.Dia dijatuhi hukuman 10 tahun. Seharusnya baru bebas pada 2012, namun pada 2009 menerima pembebasan bersyarat.Machmudi menuturkan, seorang napi teroris saat masuk dalam lapas, akan ditempatkan dalam blok khusus napi teroris. Napi itu akan menjalani masa karantina atau isolasi selama 1-4 bulan.Namun, di dalam blok khusus yang ditempatkan berjauhan dengan blok napi lainnya itu, para napi teroris terpisah-pisah berdasarkan kelompok atau paham yang dianutnya.”Ya, jadi tak bersatu. Terpisah-pisah seperti faksi, karena paham dan kelompoknya tidak sama,” ujar pria beranak tiga yang pernah bergabung dengan militan Moro Filipina Selatan pada 2000 ini.Menurut dia, interaksi dengan napi lain terjadi saat shalat atau acara keagamaan, serta workshop yang dilakukan pihak lapas. “Bisa saja, napi kriminal atau kasus lain, dapat menjalin hubungan atau bahkan belajar paham radikal dari napi teroris,” ujarnya.Interaksi itu dapat berupa meminjam buku, berdiskusi, atau bahkan tukar-menukar alamat. Makanya, tak jarang ada yang kemudian bertemu dan menjalin komunikasi lagi saat mereka bebas. “Makanya jangan heran, ada napi kasus lain kemudian ikut kelompok radikal setelah bebas,” paparnya.Dia mengaku, hal seperti bisa terjadi, karena tidak adanya pembinaan khusus dari lapas.”Para napi teroris tidak dibina khusus. Misalkan mendapat bimbingan keagamaan dari ulama atau ustad, agar pemahaman kami yang radikal dapat berubah. Jadi, kalaupun ada pembinaan rohani ya secara umum. Misalkan pengajian, undang ulama atu ustad ceramah, abis itu selesai,” tambahnya.Pihak BNPT,kata Macmudi, pun hanya berkunjung ke lapas sebulan sekali. Itupun hanya tempo singkat 1-2 jam. “Ya kami dikumpulkan di satu ruangan, ditanya-tanya soal kehidupan di lapas, rencana setelah bebas dan membahas soal masa hukuman. Tak ada pembinaan khusus agar kami meninggalkan paham radikal,” ujarnya.Dijelaskan, napi teroris yang bebas murni, setelah bebas menjalani hukuman, biasanya akan lepas sama sekali dari pembinaan. Namun bagi mereka yang bebas bersyarat, ada “pembinaan” seperti wajib lapor ke balai pemasyarakatan.”Yang bebas murni ini yang banyak hilang dari pemantauan. Sedangkan kami yang bebas bersyarat masih dibina dengan wajib lapor atau berhubungan dengan BNPT,” ujar pria yang kini menekuni bisnis rental mobil ini.Apa saja bentuk dukungan dan bantuan dari pihak BNPT kepada para mantan napi teroris? Menurut dia, ada bantuan modal usaha Rp 5 juta biasanya ditawarkan untuk membuka usaha bengkel, laundry atau fotokopi.Upaya deradikalisasi yang diakukan pihak BNPT, kata dia, tidak sepenuhnya berhasil membuat para napi teroris “tobat”. Karena banyak yang kemudian tidak diterima oleh masyarakat saat bebas.”Saya dan teman-teman banyak mendapat cibiran, kecurigaan dan stigma negatif dari masyarakat. Yang tidak tahan, umumnya akan langsung pindah ke tempat lain dan kembali berjihad dengan kelompoknya. Setelah bebas, mereka juga bingung mau kerja apa, mau usaha tak punya modal. Tak semua napi dapat dijangkau BNPT,” ujarnya(beritasatu.com)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY