SHARE

Kisah si Manusia Robot yang Makin ngetop

METROPOLITAN.ID – Nama I Wayan Sumardana alias Tawan semakin ramai diperbincangkan. Gara-gara pandai menciptakan robot sebagai pengganti tangan kirinya yang tidak berfungsi, Tawan sampai dijuluki Iron Man dari Indonesia. Seperti apa kisah
si manusia robot itu?
Pagi itu sekitar enam bulan lalu, Tawan terkejut bukan kepalang. Saat bangun pagi dia mencari tangan kirinya. ”Tangan kiri Bapak mana? Tangan kiri Bapak mana?” teriak Tawan.
Betapa tidak, Tawan merasakan tangan kirinya hilang. Ia panik memanggil anak-anak dan istrinya lantaran tangan kirinya lumpuh. Dari hasil pemeriksaan dokter semuanya normal, tak ada yang aneh dalam diri Tawan.
Pria yang tinggal di Desa Nyuhtebel, Karangasem, Bali, itu kemudian mencari tahu di internet untuk mengolah barang bekas menjadi tangan robot. Tawan yang sehari-hari sibuk mengelas itu mengaku kelumpuhan tak akan pernah membatasi aktivitas dan ruang geraknya.
Semangat Tawan keluar dari keterbatasan fisik pun terbayar. Tawan mampu menyelesaikan tangan robotnya dalam waktu dua bulan. Lengan robot buatannya pun berfungsi normal dan dianggap mampu membantu kinerjanya sebagai tukang las.
Tawan mengelas, mengangkat besi dan memindahkan barang layaknya manusia normal. Rangkaian gear yang saling terhubung mulai bergerak seiring gerakan siku dari tangan kiri Tawan. Tujuannya ia harus bisa kembali menggerakkan tangan kirinya demi mengais rezeki menghidupi ketiga putra hasil pernikahannya dengan Ni Nengah Sudiartini. ”Saya nggak mau terbatasi dengan itu. Demi keluarga dan anak-anak saya harus tetap bekerja,” ujarnya
Kisah Tawan beredar luas di media sosial. Oleh situs 9Gag, Tawan dijuluki ’Iron Man’ dari Bali karena alatnya mampu bergerak digerakkan otak, seperti layaknya kisah fiksi Iron Man.
Dalam meme di 9Gag disebutkan Tawan membuat semuanya dari barang bekas, mulai dari suku cadang sepeda, sepeda motor, komputer dan apapun yang dia temui. Bahkan, kini lengan kirinya jadi lebih kuat dari lengan kanannya.
Keterbatasan fisik tak menyurutkan semangatnya untuk menghidupi keluarga. Saat lengan kirinya tak bisa bergerak, Tawan tak mengeluh. Ia malah sibuk memutar otak untuk menormalkan kembali hidupnya.

TERINSPIRASI ASTRO BOY
Tawan mengaku sejak berumur 4 tahun ia terinspirasi dari tokoh animasi bernama ”Astro Boy”. Menginjak usia dewasa, tak disangka kekaguman Tawan pada Astro Boy menjadi inspirasi dirinya menjadi manusia robot. Kondisi fisik itu pun mendesaknya bergerak memaksa diri menghadirkan wujud tokoh animasi Astro Boy dalam dirinya.
Astro Boy adalah kisah fiksi ilmiah yang menggambarkan hubungan robot dan manusia dalam bentuk kartun. Kisah dari Jepang ini begitu terkenal di Indonesia pada 80-90an. Sampai 2007, kisahnya masih menarik bagi anak-anak di seluruh dunia.
Komponen alat buatan Tawan mulai dari besi penopang, tabung hidrolis hingga beberapa kabel terlihat bekas. Tawan merancang, merakit dan menyambung sendiri seluruh item itu. Dia juga menggunakan CPU komputer, dinamo, tuning potensio, sensor ultasonik, sensor infra merah dan sensor jumlah putaran dinamo.
Untuk memuluskan gerak alat itu, Tawan memasang satu unit CPU komputer dipasang di bagian belakang tubuhnya. Fungsinya sebagai penggerak dari sensor di kepala. Tuning potensio merupakan rangkaian pengolah input dan output mikro kontroler.
”Infra merah, sensor ultrasonik, dan sensor jumlah putaran dinamo ini adalah rangkaian penguat power. Ada pula EEG. Semuanya tersambung ke dinamo agar dapat bekerja secara maksimal,” jelasnya. ”Lalu ada drone, elektroda dan lainnya. Posisinya ditempel di kepala sebagai penangkap sinyal, alpa, delta, beta dan teta,” imbuhnya.
Tapi alat itu membuatnya harus mengeluarkan energi ekstra. Sebab Tawan harus benar-benar fokus dan berkonsentrasi. Jika tidak, alat akan bekerja secara tak normal. Tawan pun membutuhkan listrik 500 voltase. Ini didapat dari baterai litiumoin yang dipasangnya.
Agar dapat terus digunakan, alat ini harus terus diisi daya baterainya. Memakan waktu cukup lama untuk mengisi ulangnya. Biasanya, jika tak digunakan Tawan menyempatkan diri untuk mengisi ulang dayanya.
”Kalau orang pegang ini ya kena setrum. Tapi kalau saya sendiri yang memakai alat ini tidak (tersetrum). Biasanya jam 24.00 malam saya charge sampai jam 7.00 pagi. Kalau kekuatannya tergantung pemakaian. Kalau angkat yang berat-berat bisa cepat habis. Kalau hanya mengelas bisa tahan lebih lama,” jelasnya. Tawan kini masih ingin menyempurnakan lengan robotnya. Jari-jarinya masih sulit digerakkan. ”Ini kan masih sedikit susah, kurang luwes gerakannya,” ujar Tawan.
Sambil memperlihatkan chip yang terpasang di kepalanya, Tawan serius dan konsentrasi mengerjakan garapan las. Keahlian Tawan mulai dari memperbaiki perabot rumah tangga, barang elektronik hingga sepeda motor membuatnya sering dijuluki manusia robot oleh warga sekitar.
Selain membuka bengkel las di Jalan Gusti Ngurah Tenganan, Desa Nyuh Tebel, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, sehari-hari Tawan juga menjadi pengepul barang bekas. Tak heran bila di bengkel las nya terlihat tumpukan besi tua, perkakas elektronik rusak dan perabot bahan yang bisa didaur ulang.
Apakah Tawan mau jika hasil kreativitasnya dikomersilkan? Pria penyuka robot ini mengaku tak keberatan kalau ada warga yang ingin dibuatkan tangan robot seperti miliknya. Namun kini bapak tiga anak ini beranggapan penemuannya belum layak untuk diproduksi secara massal.
”Nggak keberatan kalau ada yang mau dibikinkan, tapi biayanya bagaimana ya? Belumlah, jangan dikomersilkan dulu, belum setuju kalau diproduksi secara massal gitu. Nggak kepikiran juga untuk begitu,” akunya.

HIDUP DI TANAH KONTRAKAN
Tawan dan keluarganya hidup di atas tanah kontrakan tanpa bangunan permanen. Di atas tanah seluas 200 meter persegi itu, Tawan, Ni Nengah Sudartini serta tiga anak laki-lakinya tinggal. Tanah itu merupakan tanah kontrakan yang sudah empat tahun disewanya.
Sebagian tanah itu adalah tumpukan barang bekas, mulai dari botol-botol plastik yang menggunung, di sisi lain ada barang rongsokan elektronik seperti TV, kulkas, dan besi-besi bekas. Ada tabung gas untuk mengelas.
Di sisi yang menempel tembok tetangganya, ada bagian yang difungsikan sebagai tempat tidur, meski sama sekali tak tampak sebagai tempat tidur. Ruangan itu disekat triplek bekas beratapkan seng dan bambu, kemudian terlihat ketiga putra Tawan itu tidur.
Dua anak Tawan tidur beralas kardus di atas tanah dengan masing-masing satu bantal yang sudah kucel, sedangkan seorang putranya tidur di bekas kursi mobil yang joknya sudah sobek dan menyembul busa-busanya.(de/er/py)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY