SHARE

METROPOLITAN.ID –  Nama Bahrun Naim kini menjadi perbincangan lantaran diduga menjadi dalang teror di Jalan MH Thamrin. Di dunia teroris, dia bukan orang baru. Naim pernah dihukum lantaran memiliki puluhan amunisi di kontrakannya.
Jejak Bahrun terendus saat dihentikan di jalan oleh polisi di Jalan Mayor Sunaryo, Pasar Kliwon, Surakarta 9 November 2010 siang. Setelah itu, Tim Densus 88 menu­tup kepala Bahrun dan membawanya berputar-putar. Setelah diajak berkeliling tidak tentu arah, Bahrun kemudian digelandang ke kamar hotel.
Bahrun pun diminta menggambar denah kontrakannya dan saat fajar menyingsing, Tim Densus 88 menggerebek kontrakan Bahrun. Dari dalam rumah, Bahrun diminta membuka garasi belakang. Lantaran terkunci, polisi mendobrak pintu garasi dan di suatu sudut terdapat ransel berisi 28 kotak kertas warna  merah jambu berisi 533 peluru senjata api. Bahrun pun diadili dan terbukti menyimpan amunisi tanpa izin dari seseorang bernama Ipung. ”Menjatuhkan hukuman pidana 2 tahun 6 bulan penjara,” putus ketua majelis Bintoro Widodo dalam putusan bernomor register 7/Pid.Sus/2011/PN.Ska.
Nama Bahrun Naim kini kem­bali muncul setelah peristiwa horor ledakan bom di Menara Cakrawala dan pos polisi di Jalan MH Thamrin. Bahrun disebut-sebut sebagai otak teror yang menewaskan 7 orang dan menyebabkan puluhan korban luka.
Sementara itu, Bahrun bisa melakukan perjalanan ke luar negeri dengan dokumen paspor yang dimilikinya. Dalam paspor itu dia tetap menggunakan nama asli untuk pergi ke Suriah bersama istri dan tiga anak. Sang istri diketahui bernama Siti Lestari. Wanita itu kini menghilang.
Sebelum membawa Siti, Bahrun sempat datang ke rumahnya di Demak. Sejak saat itu mahasiswi UMS itu tak pernah pulang dan tidak ada kabar sama sekali.
Paman Siti, Karsum mengatakan, Bahrun pernah datang menemui orang tua Siti di Dukuh Cangkring, Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Namun, ia tidak tahu maksud dan tujuan Bahrun Naim datang ke sana.
Pihak keluarga Siti sudah pasrah karena usaha pencarian tak membuahkan hasil. Rumah kerabat di Demak kini sepi dan ayah serta ibunya berdagang di Kalimantan. Orangtua menganggap kalau pulang, maka Siti adalah anaknya. Jika tidak pulang, maka dia bukan anaknya. ”Sudah cari ke mana-mana, keluar banyak biaya. Sudah ikhlas,” ujarnya.
Dari hasil pelacakan diduga Bahrun ada di Suriah. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, ada pendanaan yang mengalir dari Suriah untuk bom Thamrin. Dana diduga mengalir dari Bahrun Naim yang memang berada di Rakha, Suriah. ”Dari deteksi yang kami lakukan, memang ada pendanaan dari sana,” kata Badrodin, kemarin. Bahrun Naim kabarnya pergi ke Suriah setelah bebas dari penjara pada 2013. (de/er)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY