SHARE

METROPOLITAN.ID – Budaya berjalan kaki nampaknya masih belum melekat di jiwa orang-orang Indonesia, terutama orang Kota Bogor. Hal ini bisa terlihat dengan semakin macetnya jalan raya akibat bertumpuknya ratusan mobil dan motor. Padahal jika budaya hedonis (pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup) tersebut diubah dengan budaya berjalan kaki, tak hanya soal kemacetan, udara dan lingkungan pun bisa lebih go green.
Berawal dari kampanye publik di Jalan Nyi Raja Permas dekat Stasiun Bogor sebagai sebuah jalur pedestrian, maka berkumpullah beberapa komunitas yang kemudian membentuk sebuah Koalisi Pejalan Kaki Bogor (KPK-B) yang diresmikan Walikota Bogor terdahulu yakni Diani Budiarto. Mereka membentuk wadah tersebut untuk bisa menyosialisasi dan mengedukasi masyarakat tentang manfaatnya berjalan kaki dan pedestrian.
Mengusung visi ‘Dengan berjalan kaki menuju Kota Bogor yang sehat, berkelanjutan dan berbudaya’, KPK-B menjadi wadah dalam penggerak terwujudnya pedestrian yang nyaman bagi warga Kota Bogor. Niat baik tersebut tentu tak mudah dilakukan, mengingat fasilitas pedestrian yang masih belum mencukupi. Sehingga berbagai upaya terus dilakuakn KPK-B seperti melakukan berbagai aksi lingkungan dan pemberian award.
Ketua Koalisi Pejalan Kaki Bogor Irna Kusumawati mengatakan, KPK-B ingin bersama-sama dengan elemen masyarakat menjadikan Kota Bogor sebagai kota yang ramah lingkungan bagi pejalan kaki. Adanya fasilitas infrastruktur pejalan kaki yang seimbang dengan budaya dan heritagenya. Pemberdayaan masyarakat dalam menjaga fasilitas infrastruktur dan mengembangkan nilai-nilai budaya luhur, warisan, sejarah yang ada di Kota Bogor. “Harus ada kerja sama semua pihak untuk mengajak semua masyarakat paham akan sehatnya dan murahnya berjalan kaki,” pungkas Irna. (fla/b/ram)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY