News, Sport and Lifestyle

Aku Dihamili Teman Kerjaku

METROPOLITAN.ID | Sebut saja namaku Linda. Saat ini aku sedang hamil enam bulan. Dulu aku berusaha menggugurkannya waktu usia kandunganku masih dua bulan, namun janin dalam rahimku tak mau pergi. Pilihan itu terpaksa aku lakukan karena aku hamil
di luar nikah.

Akhir 2011, aku mengenal seorang lelaki bernama Ipung. Kami pacaran beberapa bulan. Tak lama, Ipung memperkenalkanku kepada orang tuanya. Ternyata orang tua Ipung menginginkan kami segera tunangan dan menikah. Tapi, aku menolak karena merasa belum siap menikah dini. Keluarga Ipung setuju kami tak segera menikah. Mereka memberi waktu satu tahun pertunangan hingga akhir tahun 2012.
Hubungan aku dan Ipung terkesan baik-baik saja. Ipung adalah lelaki yang baik. Dia tidak suka beradu argumen denganku. Setiap aku marah, Ipung memilih mengalah. Setahun berlalu, rencana pernikahan pun disusun. Kami akan menikah November 2012. Tanggal telah ditetapkan dan persiapanpun telah dilakukan.
Selama itu aku bekerja di sebuah pabrik plastik. Aku bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sendiri karena sepeninggal ibu, ayahku menikah lagi dengan wanita lain. Tepat sebulan sebelum pernikahan, aku mengenal Hengki. Hengki adalah seorang teknisi yang bekerja satu pabrik denganku. Hubungan kami makin lama makin dekat. Maklum, tiap hari kami bertemu. Benih-benih cinta pun tumbuh di antara kami.  Hingga kami melakukan hubungan badan hingga beberapa kali.
Hari pernikahan berlangsung dengan meriah. Seharusnya, aku menikmati malam pertama dengan bahagia. Tapi malam itu, aku memilih bekerja di pabrik. Aku merasa Hengki telah mengusik jiwaku. Membuatku kangen ingin bertemu. Ternyata kejadiannya lebih parah, Hengki mengajakku menginap di rumah neneknya di luar kota Semarang hingga seminggu lamanya. Entah mengapa, aku tak bisa menolaknya. Padahal saat itu aku sudah berstatus istri sah Ipung.
Seminggu kemudian aku pulang. Hengki mengantarkanku ke rumah. Entah setan mana yang mempengaruhiku. Aku malah tak menghiraukan suamiku sama sekali. Aku justru nempel Hengki waktu di rumah. Hari berikutnya saat di rumah teman, aku merasa ada perubahan dalam diriku.
Tak seperti biasanya aku ingin makan makanan yang rasanya kecut. Temanku curiga dan menyarankan untuk periksa kehamilan. Saat diperiksa bidan, ternyata benar. Aku sedang mengandung 2 bulan. Aku histeris karena merasa belum siap menjadi seorang ibu.
Aku juga takut sebenarnya ini bayi siapa? Anak Hengki atau Ipung? Kalau dengan Ipung sejak tunangan, kami selalu melakukan hubungan suami istri. Dengan Hengki, ya baru sebulan.  Sewaktu aku ceritakan ke suamiku, ia pun balik bertanya bayi siapa yang dikandungku ini.
Aku bolak-balik ke rumah mertuaku. Tapi mereka selalu mencemooh aku. Aku dikatakan pelacur dan sumpah serapah lainnya. Aku akui kalau aku salah. Aku tetap mengharap Ipung menjadi suaminya. Tapi, Ipung bergeming. Dia lebih memilih keluarganya. Aku juga menceritakan kehamilanku kepada Hengki. Tapi dia malah menjauh. Setelah diusut-usut dia sudah punya anak dan istri. Betapa bodohnya aku dibohongi lelaki itu. (sek/els/py)

Seperti yang diceritakan
Linda pada sekolahoke.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *