SHARE

METROPOLITAN.ID – Seandainya waktu bisa diputar kembali, ingin sekali rasanya kembali ke masa di mana aku belum mengerti apa itu jatuh cinta dan apa itu arti saling mencintai.

Namaku Agung. Aku akan berbagi cerita tentang kisah dan pengalaman yang aku alami. Sejak lahir aku menganut agama Kristen Katolik. Keluargaku tidak sebahagia keluarga lainnya apalagi  setelah kematian ayah saat aku duduk di bangku kelas 4 SD.
Setelah itu, keluargaku benar-benar merasakan kerasnya kehidupan. Pada waktu aku masuk kelas 1 SMP, ibu memutuskan menikah dengan pria beragama Islam. Di saat aku lulus dari bangku SMP, hubungan aku dan ayah tiriku mulai renggang. Aku memilih hidup sendiri untuk melanjutkan sekolah di bangku SMK. Aku memutuskan keluar dari rumah dan pindah ke luar kota, suatu kota yang identik dengan mayoritas muslim.
Di saat aku kelas 2 SMK, aku bertemu seorang wanita keturunan asli Jawa penganut Islam. Sebut saja namanya Rida. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Orang tuanya selalu mendidik dia sesuai ajaran agama. Tidak heran jika pengetahuannya tentang agama sangatlah kuat. Kami berdua merajut kisah cinta bersama. Berbagi cerita, pengalaman, dan kisah kehidupan. Suka, duka, canda, dan tawa kami selalu bersama. Kami saling pengertian, toleransi antaragama, dan saling menerima apa adanya. Kami selalu bahas masa depan, kita sempat bermimpi ketika kita sudah berkeluarga nanti.
Di tengah perjalanan kami sempat berpikir. Cinta beda agama ke mana ujungnya? Ada pikiran yang terlintas berpindah keyakinan. Tetapi aku selalu meyakinkan pacar aku kalau  ada perjuangan pasti ada jalan. Karena aku yakin mukjizat Tuhan itu nyata.
Dia sempat yakin dan percaya dengan omonganku. Tetapi dia menyerah saat dia tidak mendapatkan restu dari orang tuanya. Aku berusaha terus meyakinkan dia. Tuhan itu hanya satu, kepercayaan kita yang berbeda.
Tetapi dia nyerah, karena dia tak ingin hubungannya dengan orang tua renggang dan tak ingin menyakiti perasaan orang-orang yang dekat di antara kita. Semakin kami sering bersama semakin besar perasaan kami. Semakin sering bersama juga semakin besar cobaan yang akan kami dapat. Dia tidak ingin hubungan yang dijalin secara serius, tetapi hasilnya nol karena tidak akan pernah ada restu  orang tua.
Akhirnya kisah percintaan kami berakhir di tengah jalan. Aku juga tidak ingin melihat dia terus menangis. Memang sangat lah singkat kisah cinta kita, tetapi akan menjadi suatu pengalaman dan kenangan yang sangat berarti. Kami tak ingin di balik kebahagiaan kami ada orang yang tersakiti.
Kami pun berpisah secara baik dan saling berjanji akan selalu menjaga komunikasi, hubungan baik dan silaturahmi. Kami juga berjanji saling mendukung demi kebaikan bersama. Kami juga saling merelakan kalau di antara kami mempunyai pacar lagi. Walaupun itu sakit, inilah yang harus kami jalani. (els/py)

Seperti yang diceritakan Agung pada www.agungloveluah.blogspot.com

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY