SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta – Nama Kalijodo mendadak tenar kembali. Semua bermula pada Senin, 8 Februari 2016 pukul 04.10 WIB ketika sebuah mobil Toyota Fortuner terlibat kecelakaan maut di Jl Daan Mogot KM 15, Kalideres, Jakarta Barat.

Kecelakaan ini menyebabkan empat orang meninggal dunia. Riki Agung Prasetyo, si pengemudi mobil, mengaku usai kongkow dan minum-minum bersama delapan orang temannya di Kalijodo. Kecelakaan maut itu pun mengungkap bahwa di Kalijodo saat ini masih terjadi praktik prostitusiDirektur Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti menjelaskan sejarah Kalijodo dalam bukunya, ‘Geger Kalijodo’. Buku itu dia susun berdasarkan pengalamannya semasa menjadi Kapolsek Penjaringan dengan pangkat Komisaris Polisi.

“Sesuai dengan namanya, Kalijodo, sejak masa-masa penjajahan Belanda dikenal sebagai tempat mencari cinta,” tulis Krishna seperti dikutip detikcom, Jumat (12/2/2016).

Di tahun 1930-an, banyak pemuda single yang datang ke Kalijodo untuk mencari pasangan. Ada juga pasangan muda-mudi yang pacaran sambil menikmati sore di Kalijodo. Banyaknya pengunjung yang datang ke Kalijodo kemudian diikuti munculnya warung-warung yang menjajakan aneka makanan dan minuman. “Namanya juga Kalijodo, (orang datang) pesiarlah, liburanlah. Pada main-main ke situ, kemudian muncullah warung-warung,” kata Krishna yang ditemui detikcom di Mapolda Metro Jaya, Kamis malam (11/2/2016).

Dalam perkembangannya, warung-warung yang awalnya semi permanen itu kemudian berubah menjadi kafe-kafe dengan bangunan permanen. Pengunjung yang datang pun tak lagi muda-mudi yang saling berpasangan. Mayoritas pengunjung adalah perempuan yang menjajakan diri.

“Yang datang ke Kalijodo bukan hanya cowok cewek lagi tapi cewek-cewek yang sudah siap di situ. Di situlah ada perdagangan wanita, nah kemudian ada kafe-kafe,” kata Krishna.

Kalijodo pun mengalami perkembangan yang cukup pesat karena letaknya yang strategis. Banyak orang dari kelas ekonomi ke bawah mencari hiburan ke Kalijodo. Tak hanya prostitusi, penguasa wilayah di Kalijodo akhirnya juga membuka lapak-lapak perjudian.

Dari perjudian inilah kemudian muncul sistem pengamanan alias premanisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu.
“Nah karena banyak orang datang muncul namanya perjudian, bagian dari entertaint yang disiapkan oleh operator-operator di sana (Kalijodo). Karena di situ juga ada perjudian maka muncullah pengamanan. Muncul premanisme, grup kelompok preman,” kata Krishna. (detik.com)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY