SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta – Tingginya harga beras di DKI Jakarta, ternyata, dipicu panjangnya mata rantai tata niaga.Kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin, alur distribusi beras dari produsen hingga konsumen di DKI Jakarta merupakan yang terpanjang di Indonesia. Pola perdagangan mencapai tujuh sampai delapan mediator atau kelembagaan. “Untuk rantai perdagangan beras yang terpanjang ada di DKI Jakarta,” kata Suryamin di Jakarta, Senin (1/2/2016).Kata Suryamin, alur distribusi beras dari produsen hingga ke konsumen akhir, rata-rata melibatkan dua hingga sembilan fungsi kelembagaan perdagangan. Sementara, pola perdagangan beras di Jakarta, sedikitnya mencapai tujuh rantai dan delapan mediator atau kelembagaan.”Ada banyak jaringan distribusi, pemerintah saat ini berusaha untuk memotong rantai tersebut. Rantai perdagangan seperti ini yang bisa menyebabkan harga di tingkat konsumen akhir terlalu tinggi,” kata Suryamin.Menurut Suryamin, selain beras, beberapa komoditas yang diamati adalah cabai merah, bawang merah, jagung pipilan dan daging ayam ras.Untuk alur distribusi perdagangan terpanjang cabai merah, bawang merah dan jagung pipilan berada di Jawa Tengah. Sementara, untuk beras dan daging ayam ras berada di DKI Jakarta.Suryamin menjelaskan, distribusi beras dari produsen hingga konsumen secara nasional melibatkan hampir seluruh fungsi kelembagaan perdagangan yakni produsen, importir atau eksportir, pedagang pengepul, distributor, sub-distributor, agen, sub-agen, pedagang grosir, swalayan atau minimarket atau supermarket atau pedagang eceran dan konsumen akhir.”Sementara untuk Margin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP), untuk beras secara nasional mencapai 10,42 persen,” kata Suryamin.Dengan MPP mencapai 10,42%, kata Suryamin, mengindikasikan bahwa secara rata-rata dan perdagangan beras mendapatkan keuntungan 10,42% dari nilai pembeliannya. Sementara untuk cabai merah, lanjut Suryamin, MPP-nya 25,33%, bawang merah 22,61%, jagung pipilan 31,90% dan daging ayam ras 11,63%.”Semakin panjang rantai perdagangan, maka akan semakin merugikan konsumen akhir karena margin juga semakin tinggi. Jika rantai bisa dipangkas maka akan menurunkan harga, dan akan berdampak juga ke inflasi. Harga yang terjadi saat ini adalah akibat dari panjangnya rantai perdagangan,” kata Suryamin.(inilah.com)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY