SHARE

METROPOLITAN.ID – Lembaga kepolisian Eropa baru-baru ini mengeluarkan laporan mengejutkan. Europol pada Ahad (31/1) mengatakan ada lebih dari 10 ribu pengungsi dan migran anak-anak tanpa pendamping menghilang di Eropa.

Seperti dilansir laman Aljazirah, ini merupakan kali pertama Europol merilis angka migran dan pengungsi yang hilang. Jumlah tersebut merupakan hasil pendataan dalam 18 hingga 24 bulan terakhir. Europol mengatakan kekhawatiran bahwa anak-anak tersebut akan masuk dalam lingkaran perdagangan seks atau perdagangan budak.

Kepala Staf Europol Brian Donald mengatakan anak-anak yang rentan telah menghilang setlah mendaftarkan kedatangan mereka pada otoritas negara di Eropa. Dia menjelaskan, tak masuk akal bahwa kini mereka harus mencari lebih dari 10 ribu anak-anak yang hilang tersebut.

“Tak semua dari mereka dieksploitasi secara kriminal, beberapa mungkin telah bertemu anggota keluarga mereka. Kami hanya tak tahu di mana mereka sekarang dan apa yang mereka lakukan, atau dengan siapa mereka,” ujar Donald kepada surat kabar Inggris The Observer.

Donald mengatakan ada bukti ‘infrastruktur kriminal’ yang dibangun sejak pertengahan 2014, untuk mengeksploitasi aliran pengungsi. The Observer melaporkan bahwa Europol menemukan bukti adanya kaitan antara lingkaran penyelundupan orang ke dalam Uni Eropa dan geng perdagangan manusia yang mengeksploitasi migran untuk seks dan perbudakan.

“Ada penjara di Jerman dan Hungaria di mana sebagian besar yang ditangkap dan ditahan terkait aksi kriminal seputar krisis migran,”kata Donald. Dia menambahkan kini ada sekitar 270 anak-anak migran atau pengungsi. Menurut dia, banyak dari mereka tak didampingi.(REPUBLIKA.CO.ID)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY