SHARE

METROPOLITAN.ID | BANDAR LAMPUNG – Pakar psikologi mengkaji kemunculan radikalisme ataupun terorisme yang sering dikaitkan dengan penyelewengan kadar psikis atau psikologis dari para pelakunya.

Dua pakar psikologi sosial dari Program Studi Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Hamdi Muluk dan Dr Mirra Noor Milla menggelar roadshow nasional dialog interaktif psikologi dan media, termasuk aspeknya dalam kehidupan masyarakat Lampung dengan topik “Radikalisme dan Terorisme dalam Perspektif Psikologi Sosial” di Bandar Lampung, Senin 1 Februari 2016.

Hamdi Muluk menjelaskan, terorisme merupakan hasil dari proses radikalisasi, mulai dari level individu hingga kelompok. Pada kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam, proses tersebut meliputi praradikalisasi, identifikasi diri, komitmen dan indoktrinasi, serta ideologisasi jihad.

Hamdi mengatakan, praradikalisasi merupakan interaksi antara predisposisi individu dan lingkungan. “Individu dengan kecenderungan kognitif yang khas seperti intoleransi ambiguitas, kebutuhan otoritas dan pembaruan keyakinan keagamaan sebagai sumber nilai-nilai yang baru menjadi sasarannya,” ujarnya.

Sementara itu, ia mengungkapkan, proses identifikasi diri pada kelompok mengerucut pada kelompok yang dapat memenuhi kebutuhan individu sesuai dengan identitas yang baru.

“Komitmen dan indoktrinasi yang dikuatkan peran pemimpin dalam kelompok akan menjamin proses radikalisasi kepada ideologisasi guna mencapai tujuan kelompok itu,” kata Hamdi.

Sementara itu, Mirra Noor mengharapkan kalangan sivitas akademika perguruan tinggi harus menjadi filter dan dapat memberikan wawasan serta pemahaman kepada masyarakat luas, termasuk media massa tentang perbedaan radikalisme dan terorisme.

“Langkah ini juga dimaksudkan untuk memberikan masukan kepada pemerintah tentang langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan untuk menyusun rancangan intervensi sosial, baik pada kelompok rentan, maupun mereka telah terlibat kasus terorisme yang saat ini berada di lembaga pemasyarakatan,” tuturnya.

Menurutnya, ke depan, hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang terorisme.

“Semakin rentan dan tidak mudah terhapus radikalisme dan terorisme disebabkan kedua masalah itu tidak dapat dipisahkan dari lingkup sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Apalagi ketidaktahuan publik dan kurang mawas aparat penegak hukum serta pemerintah membuat kedua ideologi ‘terlarang’ itu terus tumbuh berkembang,” kata Mirra Noor.(okezone.com)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY