News, Sport and Lifestyle

Pemilik PAUD/TK Amira Lecehkan Disdik?

METROPOLITAN.ID | BOGOR – Pemilik Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) Amira, diduga telah melecehkan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor. Sebab, surat panggilan pertama dari Disdik terkait masalah anak didiknya ditelantarkan, serta gaji guru tidak dibayar tiga bulan. Walaupun demikian, Disdik Kota Bogor akan kembali melayangkan surat panggilan kedua.
”Jika panggilan kedua dan ketiga juga tidak dihiraukannya, Disdik Kota Bogor akan mengambil tindakan tegas. Namun sebelum mengambil tindakan, saya akan laporkan dulu ke Kepala Disdik Edgar Suratman,” kata Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (Kabid PNFI) Ritta Tresnayanti ketika dikonfirmasi Metropolitan, kemarin.
Ia juga heran, kenapa pemilik Yayasan Namira tidak datang ke Disdik. Padahal, pemanggilan dimaksud untuk menyelesaikan dan mencari solusi permasalahan yang dihadapi pemilik Yayasan Namira tersebut. ”Saya pun kurang mengerti, kenapa Ibu Hj Ineu Sri Juliantini, selaku pemilik yayasan, tidak mau datang memenuhi panggilan. Mungkin ia ( Hj Ineu Sri Juliantini, red) sudah nggak mau ngurus yayasannya lagi, makanya nggak mau datang,” kata Ritta.
Namun ketika ditanya apakah Disdik akan menutup PAUD/TK tersebut, ia enggan memberikan penjelasan secara rinci. ”Mungkin juga arahnya ke situ. Sebab, panggilan pertama saja tidak dihiraukan,” paparnya.
Diberitakan, ratusan peserta PAUD dan TK Namira di Kampung Gardutinggi, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, ditelantarkan pengurus Yayasan Namira. Sebab, sudah tiga bulan ini para peserta didik diliburkan. Bahkan hingga kemarin, para orang tua murid belum mengetahui secara jelas keberadaan pengelolanya.Tidak itu saja, ternyata tiga bulan gaji gurunya juga belum dibayar.
”Ketua Yayasan sendiri yang meliburkan kegiatan PAUD/TK ini Pak, dengan alasan tidak jelas. Bahkan, sekolah itu digembok pemiliknya. Selain itu, kepala sekolahnya pun sudah tidak mau lagi dihubungi orang tua murid,” ujar sejumlah orang tua murid kepada Metropolitan yang minta namanya tidak dituliskan.
Menurut para orang tua, penghentian proses kegiatan belajar mengajar di sekolah itu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan alasan yang pasti. ”Jadi, anak-anak kami sudah lebih tiga bulan tidak sekolah. ”Bagaimana anak kami bersekolah, gurunya pun nggak ada. Sedangkan pagar serta ruang kelasnya pun ikut digembok,” bebernya.
Mereka juga merasa khawatir, terutama pada Tahun Pelajaran 2016/2017 nanti. Sebab, beberapa siswa TK akan melanjutkan pendidikannya ke tingkat sekolah dasar. Sehingga, nantinya akan mengalami kesulitan untuk masuk ke sekolah tersebut. Akibatnya, para orang tua merasa bingung.
”Harus mengadu ke mana lagi kami, Pak? Soalnya baik pihak yayasan maupun guru, tidak mau memberikan penjelasan. Apalagi, beberapa bulan lagi anak-anak kami harus melanjutkan ke sekolah dasar,” tandasnya. (tur/ar/ram/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *