SHARE

METROPOLITAN.ID | Jakarta – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, membekuk 12 pelaku penipuan online atau fraud menggunakan Voice Over Internet Protocol (VOIP) dan IP Address di Indonesia dengan sasaran korban warga negara Tiongkok.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Mujiyono mengatakan, pengungkapan kasus penipuan bermula ketika Kepolisian Tiongkok, Interpol Tiongkok dan Interpol Indonesia menyambangi Polda Metro Jaya, kemudian menyampaikan informasi terkait adanya kasus penipuan telepon online di Tiongkok.

“Disinyalir, para pelaku ada di Indonesia,” ujar Mujiyono, di Mapolda Metro Jaya, Senin (1/2).

Dikatakan Mujiyono, setelah melakukan koordinasi dan penyelidikan, penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, mendapatkan informasi IP Address yang digunakan pelaku ada di Indonesia.

“Selanjutnya, kami bentuk tim. Alhamdulillah selama kurun waktu enam hari, kami bisa menyelidiki ISP mana yang digunakan, kemudian tempat-tempat mana yang digunakan untuk memasang peralatan, tempat-tempat mana saja yang digunakan sebagai tempat tinggal,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, dalam kurun waktu enam hari, ada 12 pelaku yang dibekuk penyidik di Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur. Mereka antara lain berinisial CMC (39) asal China, HWH (37) asal China, STS (26) asal China, SSK (25) asal China, CYH (40) asal China, CHT (35) asal China, WSC (25) asal China, LCC (51) asal Taiwan, HK (35) asal Indonesia, IM asal Indonesia, dan W asal Indonesia.

“Dalam waktu enam hari, kami tangkap 12 pelaku. Sembilan warga negara asing (Tiongkok dan Taiwan), serta tiga orang warga negara Indonesia,” katanya.

Ia menyampaikan, sindikat ini berkelompok dan berbagi tugas. Semisal, menghubungkan antara pelaku di Tiongkok dengan pimpinan pelaku di Indonesia.

“Ada juga yang bertugas untuk membagikan uang, ada juga yang menyuplai logistik, menyewa ruko, sewa rumah, ada juga khusus di bidang IT sehingga pelaku di Indonesia ini bisa menggunakan internet, bisa telepon orang di Tiongkok (korban). Melakukan komunikasi, tetapi komunikasi itu tidak bisa dilacak penegak hukum. Selain itu, ada juga kelompok yang bertugas menelepon korban,” jelasnya.

Menyoal bagaimana cara komplotan ini melakukan penipuan, Mujiyono menjelaskan, para pelaku di Indonesia menghubungi korban di Tiongkok dan menyampaikan kalau korban memenangkan undian berhadiah miliaran.

“Namun untuk mendapatkan hadiah ini, korban harus bayar 1.300.000 RMB atau sekitar Rp 2,6 miliar. Tetapi, setelah korban mengirimkan uang, ia tidak mendapatkan hadiahnya,” tegasnya.

“Ada juga, tersangka di Indonesia menghubungi korban di Tiongkok kalau rekening Anda (korban) akan diblokir karena terlibat tindak pidana pencucian uang (TPPU). Supaya tidak diblokir, Anda diharapkan transfer uang sekian,” tambahnya.

Usai korban dapat ditipu, katanya, pelaku yang berada di Tiongkok mengambil uang di rekening dan mentransfernya ke rekening pemimpin kelompok di Indonesia.

“Setelah itu, uang dibagi kepada para pelaku dan untuk operasional makan, sewa ruko, sewa internet. Ini sudah berjalan cukup lama,” katanya.

Mujiyono menegaskan, setelah melakukan koordinasi dengan polisi Tiongkok, pihaknya akan mendeportasi para pelaku asing untuk menjalani hukuman di negara asal. Sementara, pelaku asal Indonesia akan diproses hukum di sini.

“Rekening sudah kami blokir jumlahnya Rp 5 miliar. Orang asing akan kami deportasi setelah koordinasi kepolisian Tiongkok. Orang Indonesia diproses di sini,” tandasnya.

Selain menangkap para pelaku, polisi juga menyita delapan laptop, satu tablet, enam telepon genggam, empat KTP, empat ATM BCA, satu buku rekening, satu token BCA, 52 unit telepon, dan 11 kalkulator.

Para pelaku terancam dijerat Pasal 28 ayat (1) Juncto Pasal 34 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 378 KUHP Juncto Pasal 66 ayat 1 KUHP dan atau Pasal 3, 4, 5 Undang-undang Republik Indonesia Tahun 2010 tentang TPPU.

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY