Gila! Bumbu Dapur dicampur Pembersih Toilet

by -

Ada-ada saja ulah pengusaha bumbu dapur ini. Demi mendapat untung berlipat ganda, ia nekat bertindak culas dengan mencampurkan cairan pembersih toilet dan pemutih pakaian. Bumbu jenis lada dan ketumbar ini pun lalu diedarkan di wilayah Jabodetabek, termasuk Bogor. Polisi kemarin membongkar lokasi pengolahan dan mena­ng­kap pelaku.

Subdirektorat Industri dan Perdagangan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menggerebek gudang pengolahan lada dan ketumbar di pergudangan Kosambi Permai, Kosambi, Tangerang.

Dari dalam gudang UD MMJ itu, polisi menemukan lada dan ketumbar bercampur zat kimia atau pemutih pakaian yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, petugas juga mengamankan pemilik gudang berinisial E (44) yang membuka usaha lada dan ketumbarnya selama delapan tahun.

Kasubdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Agung Marlianto mengatakan, pemilik usaha mencampurnya dengan bahan berbahaya tambahan untuk lada dan ketumbar. “Tujuannya untuk meningkatkan nilai kualitas  lada dan ketumbar, namun dengan cara yang tidak dibenarkan,” kata Agung, kemarin.

Agung menjelaskan, lada dan ketumbar diketahui telah dicampur bahan berbahaya berdasarkan hasil pemeriksaan di Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri. Alhasil, kadar lada dan ketumbar di atas ambang batas.

“Ambang batasnya 0,03, sedangkan yang terkandung dalam lada maupun ketumbar tersebut 7,5 dan 0,5. Jadi jauh di atas ambang batas yang telah ditentukan,” jelasnya.

Kalau dikonsumsi, kata Agus, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti iritasi di lambung, perut kembung atau kalau sampai ambang batas sering dikonsumsi itu bisa mengakibatkan sakit-sakit serius.

Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku mencampurkan dua zat kimia berbahaya berupa Hidrogen Peroksida (H2O2) dan Sodium Bicarbonate (NaHCO3) agar  lada dan ketumbar tidak berjamur.

Hidrogen Peroksida sering digunakan untuk antijamur, pemutih gigi, pemutih pakaian atau untuk industri pembuatan senyawa roket. “Senyawa tidak boleh sama sekali digunakan untuk tambahan pangan. Namun, Sodium Bicarbonate itu masih boleh tapi ada ambang batasnya 0,03. Di atas itu dikhawatirkan akan membahayakan kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Tersangka E mengaku mendapatkan bahan baku lada dari Sumatera dan Sulawesi. Bahan itu lalu diolah di gudangnya dengan mencampur bahan kimia untuk peningkatan nilai dan dipasarkan di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Lampung dan Jawa Tengah. Dari bisnis tersebut, E mendapat omset hingga Rp100 juta per bulan.

Agung mengatakan, E memiliki 26 karyawan serta tiga pabrik yang sekaligus dijadikan gudang penyimpanan lada dan ketumbar berpemutih. Satu dari tiga pabrik tersangka E diketahui tidak memiliki izin usaha alias ilegal. ”Ada tiga tempat yang kita geledah, yang dua ada izin dan satu tidak ada izin,” kata Agung.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Mujiono mengatakan, polisi menyita 50 karung isi 25 kg ketumbar yang sudah dicuci zat kimia, lima karung isi 25 kg ketumbar yang belum dicuci, lima jeriken isi 35 liter Hidrogen Peroksida dan lima karung isi 40 kg soda api. “Ditemukan juga alat-alat untuk proses pencucian ketumbar dan pedoman penggunaan pemutih pada makanan,” imbuhnya.

Kepada penyidik, tersangka mengaku sudah menjalankan bisnis ini sejak 2010. Pelaku juga mengaku bisa memproduksi ketumbar hingga 30-40 ton dengan keuntungan Rp1.100 per kg. “Kami akan mengembangkan lagi kasus ini,” katanya.

Menurut Mudjiono, pelaku melanggar UU Konsumen. Masyarakat pun diimbau waspada, karena ketumbar yang sudah dicampur zat berbahaya bisa menyebabkan kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Sementara itu, bumbu dapur yang menggunakan pemutih pakaian dan pembersih toilet membuat sejumlah ibu rumah tangga di Bogor resah. Sebab,  setiap hari mereka menggunakan bumbu dapur untuk memasak dan dihidangkan kepada keluarganya.

Warga Desa Ciampea, Kabupaten Bogor, Ratna (33) mengatakan, peredaran bumbu dapur yang menggunakan pemutih pakaian harus segera ditindak.  Sebab, jika dibiarkan akan memberikan dampak buruk kepada penggunanya.

Ratna juga mengaku baru mengetahui adanya bumbu dapur yang memakai pemutih. Jika tahu dari dulu, ia tidak akan menggunakan bumbu dapur berbahaya tersebut.

Bahkan, ia tidak mengetahui perbedaan bumbu dapur yang dicampur pemutih dan asli. “Kita tidak tahu mana yang asli dan tidak, karena belum tahu ada bumbu dapur yang dicampur seperti itu,” ujarnya kepada Metropolitan, kemarin. (mam/c/pk/er/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *