Peduli Pendidikan, Anggun Dirikan KomunitasTerminal Hujan

by -

METROPOLITAN.ID | Rasa kepedulian akan lingkungan sekitar dapat dipupuk sejak kecil melalui didikan orang tua. Inilah yang dialami Anggun Pesona Intan Puspita (27), putri sulung Tokoh Masyarakat Kota Bogor Gatut Susanta. Sejak duduk di bangku SD, Anggun sudah menjadi volunteer (sukarelawan) tenaga pengajar bagi masyarakat kurang mampu.
Karena usianya yang belum memungkinkan untuk membuat suatu instansi sendiri, Anggun baru mulai mendalami pekerjaan sebagai tenaga pengajar sosial saat dirinya sedang mengejar gelar Sarjana Psikologi di Universitas Indonesia pada 2007. Hingga lulus pada 2011 lalu, wanita berhijab ini memberanikan diri membangun komunitas. Dibantu beberapa kawan dan Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Bogor Wan Aisyah Granie, Anggun berhasil mendirikan komunitas sosial dengan nama ’Terminal Hujan’.
Berlokasi di belakang Terminal Baranangsiang, komunitas yang bergerak di bidang pendidikan anak-anak ini pun mulai menyedot perhatian publik. Pendidikan dijadikan konsentrasi utama oleh Anggun, karena di daerah tersebut sangat banyak anak-anak yang putus sekolah di usia SD atau SMP dengan berbagai alasan. “Saya sangat miris melihat bagaimana anak-anak sudah drop out dengan berbagai alasan. Kebanyakan sih, di usia SD dan SMP,” katanya.
Walaupun tidak menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk memenuhi keperluannya, Anggun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ia menjadi pekerja sosial karena panggilan jiwa. Menurut Anggun, ia tidak hanya ingin menyalurkan rasa empatinya melalui sosial media seperti yang dilakukan kebanyakan anak muda. Ia ingin terjun langsung dan membuat suatu perubahan. “Jiwa sosial ini timbul karena keresahan hati saya. Daripada saya ngomel-ngomel di sosial media, lebih baik menularkan hal positif dengan terjun langsung seperti ini,” ujarnya kepada Metropolitan, belum lama ini.
Anggun berharap, dengan dibentuknya komunitas pendidikan seperti ’Terminal Hujan’, anak-anak dapat merasakan pendidikan dan menjadikan daerahnya sebagai kampung mandiri. “Harapan saya sih, komunitas ini bisa segera menjadi yayasan agar anak-anak bisa merasakan pendidikan minimal setara SMA dan nantinya menjadi kampung mandiri,” tutup dara kelahiran 4 Maret 1988 ini. (cr1/b/ram/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *