Pernah Ditipu, Dirikan Gerakan Anak Petani Cerdas

by -2 views

METROPOLITAN.ID | Dibalut busana muslim dan hijab yang menutupi mahkotanya, dengan sabar wanita berusia 28 tahun ini mengajari anak-anak petani. Di tengah terik sinar matahari, ia rela menyalurkan ilmunya. Dia adalah Heni Sri Sundani, mantan TKW yang mendirikan gerakan anak Petani Cerdas dan AgroEdu Komunitas Jampang di Desa Jampang, Kemang, Kabupaten Bogor yang melambungkan namanya ke dunia.
Bagaimana kisah Heni? Heni merupakan mantan TKW yang bekerja di Hongkong. Hidup dan tinggal di desa memang tak memberinya banyak pilihan. Satu-satunya pilihan yang memberi peluang bagi Heni untuk bisa melanjutkan kuliah adalah menjadi TKW.
Saat itu Heni baru lulus SMK, bahkan ijazah belum sempat ia terima. Hanya empat bulan Heni berada di penampungan PJTKI. Pada Oktober 2005 ia diberangkatkan ke Hongkong bersama 19 TKI lainnya.
Dua tahun bekerja di Hongkong Heni pun digaji di bawah standar. Upah standar pada saat itu Rp4 juta sebulan, sedangkan Heni hanya menerima Rp2 juta sebulan. Bersama 19 TKI lainnya Heni terkena tipu PJTKI pengirimnya. Sebab, gaji tak sesuai ketentuan, 18 TKI tidak menyelesaikan kontrak dan kembali ke Indonesia. Sedangkan Heni bersama satu TKI lain memilih tetap menyelesaikan kontrak.
Dengan gaji di bawah standar, Heni tak memiliki uang cukup untuk bisa melanjutkan kuliah. Apalagi dia masih harus mengirim uang untuk orang tuanya di kampung. Tak seperti kebanyakan TKI yang memanfaatkan waktu luang untuk jalan-jalan dan berbelanja, Heni lebih suka menggunakan waktu luangnya untuk membaca dan menulis.
“Buat apa punya banyak uang kalau tidak bisa mengelolanya. Lebih baik uang itu dipakai untuk pendidikan,” kata Heni. Cara pandang ini pula yang membuat Heni lebih memilih belanja buku daripada belanja baju. (bor/er/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *