Penyanyi dangdut tewas dipatuk ular

by -20 views

METROPOLITAN.ID | Sambil terus memegang foto anaknya, Encum tak kuasa menahan tangis. Wanita berusia 52 tahun itu tak menyangka anaknya, penyanyi dangdut Irmawati alias Irma Bule warga Dusun Pawarengan, Desa Dawuan Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, tewas secara tragis dipatuk ular. Tragedi maut itu pun dialami sang biduan saat tampil di atas panggung dan disaksikan banyak penonton.

Penyanyi dangdut Irma Bule tewas saat pentas dalam sebuah hajatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ibunda Irma, Encum mengatakan, anaknya selalu manggung menggunakan ular jenis Sanca milik Suki warga Cilamaya, Kabupaten Karawang. Namun pada saat kejadian, Irma yang sehari-hari dipanggil Eneng itu pentas menggunakan ular yang baru pertama kali dipegangnya.

”Kalau punyak Pak Suki itu walaupun sudah jinak tetap ada seperti ritualnya dulu. Bahkan mulut ular itu pakai lakban biar aman. Satu lakban itu bisa habis semua agar nggak bisa buka mulut ularnya,” jelas wanita yang akrab disapa Amih itu, kemarin.

Namun, saat pentas pada Minggu (3/4) petang, ular yang mematuk Eneng disediakan pihak panitia. Berbeda dengan ular Sanca yang tak berbisa, ular yang disediakan panitia adalah jenis King Cobra yang dikenal sangat beracun. ”Eneng itu mungkin tidak tahu kalau ular itu beracun. Dia hanya disuruh manggung pakai ular itu dan ularnya tidak pakai lakban,” jelasnya.

Nah, saat lagu kedua usai, tragedi mematikan menimpa Eneng yang tidak sengaja menginjak bagian ekor ular. Ular pun berbalik arah dan menggigit Irma. Tak berselang lama Irma dinyatakan meninggal dunia pada Senin 4 April sekira pukul 01:00 WIB.

Jenazah Irma sudah dimakamkan sejak Senin (4/4) di TPU Kampung Ciwareng. Sang suami masih dimintai keterangan oleh polisi. Irma memiliki tiga anak. Di keluarga Irma adalah anak kedua dari dua bersaudara. Irma sudah menyanyi dangdut sejak lulus SMP. Namun, dia baru bernyanyi menggunakan ular sejak tiga tahun lalu.

Encum mengatakan, Irma kerap menggunakan ular jenis Sanca yang tak beracun dan sudah lama menjadi pegangannya. Sebelum manggung, Irma sempat mengaku malas karena organ tunggal sama ularnya bukan yang biasa bersamanya. “Tapi karena sudah tanggung dan ada yang menjemput ke rumah, Eneng (Irma) pergi juga,” kata Encum.

Hingga akhinya Irma pentas pertama kali untuk bernyanyi tanpa ular pada siang hari dan berakhir pada pukul 17:00 WIB. Kemudian Irma melanjutkan dengan pentas tari ular pada malam hari sekira pukul 21:00 WIB.

Saat pentas tari ular itulah tragedi pun terjadi. Ular yang semula menemaninya tiba-tiba menyerang karena tak sengaja terinjak di bagian ekornya. ”Kata orang-orang digigitnya lama di bagian paha kanan. Eneng digigit King Cobra sampai 30 menit,” jelas Encum.

Menurut dia, panitia acara sempat mencoba mengobati Irma dengan menyedot racun pada pahanya. ”Harusnya kan diikat di bagian atas yang digigit agar racun berhenti, tapi ini malah diikat di bagian yang kegigit. Sama saja bohong kalau begitu,” sesalnya.

Semakin lama Irma kondisi fisiknya pun semakin melemah hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun, Irma menghembuskan napas terakhirnya setelah tiga jam berjuang melawan racun ular atau pada Senin 4 April pukul 01:00 WIB.

Usai menjalani serangkaian pemeriksaan termasuk otopsi, jenazah Irma langsung dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan di TPU Pawarengan yang tak jauh dari rumahnya. Lebih lanjut Encum menyebut tak ada satu pun perwakilan panitia yang datang untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi pada anaknya. Tak hanya itu, dia juga mempertanyakan barang dan uang Irma yang tak kembali.

”Sampai sekarang saja nggak ada yang ke sini, seharusnya minimal mereka itu melayat ke rumah. Kalaupun takut dimarahi sama keluarga sama saya, itu wajar. Kita juga tidak akan sampai ngapa-ngapain,” kata Encum. Kini, Encum berharap polisi bisa mengusut kasus ini.

Sementara itu, rekan korban di panggung, Yeyen, mengatakan, dirinya melihat ular Kobra tersebut menggigit paha Irma. Meski mengetahui dirinya digigit, Irma tak menghentikan tariannya.

Menurut Yeyen, korban memang dikenal sebagai penari ular sekaligus penyanyi organ tunggal di grup X-DJ yang biasa manggung ke desa-desa. ”Kalau ada penari ular penontonnya banyak, makanya setiap hajatan gunakan penari ular dan korban selalu dipanggil untuk manggung,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kapolres Karawang AKBP M Dicky Gading Pastika mengatakan, awalnya disangka ular jenis King Cobra tersebut sudah tak ada bisanya, ternyata masih ada. Dicky menyebut, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang berada di lokasi. Selain mencari tahu pemilik ular, polisi juga terus mendalami kenapa ular tersebut masih memiliki bisa. ”Kalau seperti itu kan biasanya bisanya sudah tidak ada. Kita lagi dalami, masalah ularnya ini kenapa bisa-nya masih ada,” kata Dicky. (dtk/mer/er/wan)

Loading...