Petugas Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan bahan makanan yang tidak terdaftar di salah satu swalayan di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (22/6). Selama Ramadan, petugas meningkatkan pengawasan dan menemukan sejumlah bahan makanan yang tidak memenuhi ketentuan seperti kadaluarsa, tidak terdaftar, dan juga mengandung bahan berbahaya. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ed/ama/15

METROPOLITAN.ID | TANGERANG –  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar Gerakan Nasional Waspada Obat dan Makanan Ilegal (GNWOMI) di Tangerang.

Gerakan yang telah dicanangkan pada 2013 direncanakan terus digalakkan untuk melibatkan peranan masyarakat terhadap penyebaran obat dan makanan ilegal.

Apalagi, di masa perdagangan bebas saat ini, kesadaran konsumen dan pengawasan pemerintah menjadi penting untuk memutus mata rantaiu distribusi obat dan makanan yang berbahaya.

“Selama ini pemberantasan obat dan makanan ilegal cenderung difokuskan pada supply reduction atau pada produsen dan penyedianya. Melalui GNWOMI ini, BPOM juga akan semakin mengintensifkan demand reduction atau mengurangi permintaan dari masyarakat sendiri,” kata Kepala BPOM Roy A. Sparringa di Tangerang, Minggu (17/4/2016).

Menurut data BPOM, transaksi terkait peredaran obat dan makanan ilegal pada 2015 mencapai sekitar Rp20 miliar lebih dan tahun ini diperkirakan mencapai dua kali lipatnya.

Lebih lanjut, dirinya mengapresiasi peran pemerintah daerah salah satunya Pemkot Tangerang yang telah berpartisipasi dalam GNWOMI melalui program Tangerang Sehatnya.

Hal tersebut bisa dilihat dari pemberian izin untuk pangan industri rumah tangga yang diharapkan akan turut menekan peredaran produk obat serta makanan ilegal di pasaran.

Pada saat yang sama, Walikota Tangerang Arief R. Wismansyah mengungkapkan dukungannya terhadap sosialisasi mengenai bahan makanan dan obat-obatan yang berbahaya.

(bisnis.com)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here