Cinta Dunia Pendidikan, Jadi Guru sejak Remaja

by -1 views

METROPOLITAN.ID – Siti Rahmani Rauf tergolek lemah di ranjang rumahnya di kawasan Peramburan, Jakarta Pusat. Usianya sudah 97 tahun. Ya, Siti Rahmani adalah pencipta metode baca ”Ini Budi” yang membantu jutaan anak Indonesia era 80-90-an jadi mudah membaca dan mengenal bahasa Indonesia.

Siti Rahmani Rauf kini hanya terbaring di kamar. Ia tinggal di rumah berlantai dua bercat abu-abu yang cukup sederhana dan asri. Banyak tanaman hijau yang berada di depan rumah. Anak Siti Rahmani Rauf, Karmeni Rauf (63), menceritakan kondisi sang ibunda. Saat ini menurut Karmeni, Siti sudah terlihat lemah, mengingat usianya yang menjelang satu abad.

Karmeni mengatakan, ibundanya merupakan guru lulusan dari sekolah Belanda. Menjadi guru sejak umur masih 18 tahun dan terakhir bekerja di SD Tanah Abang 5 sebagai kepala sekolah tahun 1976.

Siti Rahmani Rauf adalah perempuan kelahiran Sumatera Barat, 5 Juni 1919. Karmeni yang juga akrab disapa Eni mengatakan, Siti berkiprah lama menjadi seorang pendidik di Pulau Sumatera selama kurang lebih 15 tahun sejak tahun 1938 hingga 1953. Pada 1954, Siti kemudian pindah ke Jakarta bersama suami dan anak-anaknya. Eni bercerita tentang kisah di balik pembuatan buku ”Ini Budi” yang melegenda itu.

Eni menjelaskan, sang ibunda, Siti Rahmani Rauf, pertama kali mendapat proyek ”Ini Budi” ketika tinggal di Depok sekitar tahun 1986. ”Setelah pensiun, mami mendapat proyek dari Kementerian Pendidikan, proyeknya itu membuat alat peraga, jadi mami nggak buat buku paket. Dulu kan Bahasa Indonesia buku paketnya ”Ini Budi” dari pemerintah, tapi waktu itu Kementerian Pendidikan butuh alat peraga ya berupa gambar-gambar gitu, nggak cuma teks,” jelas Eni.

Eni yang juga guru Sekolah Dasar ini menggambarkan respons ibundanya saat itu. Siti menerima dengan tangan terbuka proyek dari Kementerian Pendidikan. Faktor yang utama adalah kecintaan Siti kepada dunia pendidikan, selain itu menggambar juga merupakan hobi Siti sejak kecil.

”Karena memang hobinya menggambar, ’Bisa saya’ kata ibu saya. Setelah itu, dia ciptakan alat peraga itu, diciptakan berupa metode SAS, Struktur Analisa Sintesa. Sebelum ini metodenya metode eja,” imbuhnya.

Setelah menerima proyek tersebut, Siti lalu mengerjakannya dengan Eni selama kurang dari satu tahun. Setelah selesai, alat peraga ini kemudian dicetak dan disebarkan ke seluruh wilayah Jawa dan Sumatera.

Sementara itu, kebiasaan membaca Siti sudah dilakukan sejak muda. Saat menginjak usia 90 tahun ke atas, Siti bahkan melakukan kebiasaannya pada malam hari karena sering sulit tidur. Di ruang tamu rumahnya menumpuk beberapa judul novel berbahasa Belanda.

Selain membaca, Siti Rahmani Rauf juga hobi menjahit. Di sekitar ruang tamu rumahnya terdapat beberapa gambar dan karya berupa jahitan tangan dalam berbagai bentuk. (dtk/er/wan)