Fajri Mulya Iresha, Memberdayakan Masyarakat dengan Bank Sampah

by -

METROPOLITAN.ID | DEPOK-Jika dikelola dengan baik, sampah mestinya mempunyai nilai ekonomis. Pemikiran itu yang menginspirasi Fajri Mulya Iresha untuk mengembangkan lembaga bank dan pengolah sampah bernama Zero Waste Indonesia (ZWI). “Saya melihat sampah menjadi salah satu masalah serius di lingkungan saya, Kelurahan Kukusan dan Kota Depok secara umum. Tapi di balik permasalahan itu, ada nilai ekonomisnya,” kata Fajri. Melalui ZWI, Fajri mampu memberdayakan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya untuk mengumpulkan sampah yang kemudian disetorkan ke bank sampah.

Menurut Fajri, pergulatannya dengan sampah dimulai ketika ia dan temannya mengikuti ajang ITB Entrepreneur Challenge pada 2013. Dari acara itu, mereka mendapat dana hibah Rp 10 juta dari Kementerian Koperasi dan UKM. Uang hibah tersebut mereka gunakan untuk mengembangkan bank sampah. “Sebelumnya, kami sudah membuat bank sampah kecil-kecilan di daerah kos-kosan di Kukusan Teknik (Kutek),” ungkap Fajri. Setelah itu, mereka berpikir harus memiliki lahan cukup luas. “Kami pakai gudang di belakang kos-kosan, tapi kemudian diprotes warga karena mengundang banyak nyamuk,” cerita Fajri seraya tertawa.

Akhirnya mereka memutuskan menyewa sebidang lahan, masih di wilayah Kutek. Sebelumnya lahan itu adalah tempat pembuangan sampah liar. “Tiga bulan awal kami membersihkan sampah yang tingginya mencapai tiga meter. Orang yang melihatnya mungkin akan menyangka kami orang gila,” kata Fajri.

Awalnya mereka mempelajari jenis sampah dan bagaimana cara pengolahannya. Mereka berpikir, kalau sampah itu cuma dikumpulkan lalu dijual, tak banyak nilai tambahnya. Dan, selama ini, menurut Fajri, umumnya bank sampah berhenti usahanya karena tidak mampu menawarkan nilai tambah. “Akhirnya kami pun patungan berinvestasi untuk membeli mesin pencacah plastik, agar kami bisa menaikkan nilai sampah itu sendiri dari pencacahan plastik tersebut,” kata sarjana dan magister Teknik Lingkungan dari Universitas Indonesia ini.

Mereka menjalin kerja sama dengan bank sampah lain yang rupanya juga masih bingung dalam pengolahan sampahnya. Fajri dkk. lantas membuat sistem penjemputan dan sistem tabungan sampah. Pihaknya juga menggelar pertemuan dengan kalangan ibu-ibu setiap 6 bulan sekali untuk menambah semangat mereka. “Kami mendapat sampah dari dua sumber, yaitu dari bank sampah dan lapak pemulung,” ujar Fajri. Pasalnya, jika mereka hanya mengandalkan pasokan dari bank sampah, setiap bulannya cuma mampu mengumpulkan 1-2 ton sampah plastik. Padahal, kapasitas mesin pencacah plastik milik mereka mencapai 1 ton per hari.

Lucunya, walaupun berniat membantu, Fajri mengaku masih sering kena tipu. Misalnya, suatu kali ketika membeli sampah plastik yang sudah dikarungkan, di dalamnya terdapat batu dan beton, sehingga timbangannya menjadi berat. Namun, masalah yang sering terjadi, jenis plastiknya tidak seperti yang dipesan. “Kami kerap menerima jenis plastik yang keras atau rigid,” ujarnya.

Bagi Fajri, tantangan yang paling dirasakannya adalah kebutuhan akan modal untuk membeli mesin dan alat transportasi yang tinggi. “Kami masih membutuhkan mesin pengering dan mobil pikap,” ungkap Fajri terus terang.

Sejauh ini, perjuangan Fajri tampaknya tak sia-sia. Saat ini, ZWI telah membina 25 bank sampah yang masing-masing rata-rata melibatkan sekitar 30 kepala keluarga. ZWI sendiri mempekerjakan 7 orang sebagai karyawan plus 15 sukarelawan. Karyawan ZWI berasal dari beragam latar belakang: pemulung, pemuda pengangguran, bahkan ada orang yang sebelumnya diasingkan masyarakat (karena menderita penyakit kulit) dan seorang mantan pecandu narkoba. Mereka diberdayakan dengan diberi upah yang layak, makan dan tempat tinggal.

Hingga sekarang, ZWI telah berhasil mengolah 200 kg sampah plastik per hari. Kliennya pun terus bertambah. Termasuk sejumlah industri pengolahan ulang plastik, antara lain PT Sumber Plastik, CV Nusantara Jaya Plastik, dan PT Sumber Jaya Plastik. “Karena sampel kami bagus, jadi bisa masuk,” Fajri mengklaim dengan bangga. Ia mengungkapkan, omset per bulannya bisa mencapai Rp 30 juta dari bisnis pencacahan sampah plastik ini. “Tapi laba bersih memang masih kecil, karena fluktuasi harga plastik saat ini dan kapasitas mesin yang belum maksimal,” katanya beralasan.

Menurut Fajri, saat ini sumber sampah yang diterimanya masih dominan dari lapak pemulung. Ia berharap, ke depan, komposisinya berubah: mayoritas dari bank sampah (warga).

Fajri mengaku masih punya mimpi untuk mengatasi permasalahan sampah organik. Untuk itu, ia hendak mengembangkan ZWI dengan membaginya dalam tiga bagian. Pertama divisi riset. Ia mengaku tim risetnya sudah sampai ke London untuk penelitian mengenai kompos yang dapat dijadikan filter air untuk limbah. Kedua, impak. Tim ini nanti yang akan berhubungan dengan masyarakat. Ketiga, media. Tim ini nanti akan menyebarkan aneka informasi mengenai bank sampah.

Pengabdian Fajri mendapat dukungan dari salah seorang relawan, yakni Amanda Putri Ayu. Ia telah dua bulan bergabung dengan ZWI. “Saya tertarik bergabung, karena ingin berkontribusi bagi lingkungan, sehingga Depok tetap asri dan sampahnya bisa berkurang,” ungkap Amanda. Ia berharap, pihak ZWI lebih sering mengadakan penyuluhan, karena banyak kaum ibu yang sebenarnya cukup antusias untuk mengikuti kegiatan di bank sampah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *