Nenek 60 Tahun Serius, Nadia Sendirian di Kelas

by -2 views

METROPOLITAN.ID – Siti Nurjanah nampak serius mengerjakan soal Ujian Nasional (UN) tingkat SMP, kemarin. Usia yang sudah mencapai 60 tahun tak menyurutkan semangat Siti mengikuti ujian paket B tersebut. Ia bahkan tak malu duduk di bangku paling depan salah satu ruang kelas di SMA PGRI 4 Bogor.

Seperti murid lainnya, perempuan yang ikut paket B ini nampak serius mengerjakan soal-soal UN. Padahal, kemampuan penglihatannya sudah terbatas. “Saya ingin tetap ikut ujian meskipun agak susah baca soalnya, semoga bisa lulus dan hasilnya memuaskan,” harap Siti.

Menurut Siti, UN memotivasi dirinya untuk terus mencari ilmu. Siti ingin terus belajar agar ingatannya tetap tajam dan bisa mengamalkan ilmu-ilmunya. Sehari-hari, nenek empat cucu ini aktif mengajar mengaji ibu-ibu dan anak-anak di rumahnya di Desa Balumbangjaya, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

“Di rumah saya punya Majelis Taklim Nurul Hidayah. Setiap Senin, Rabu, Jumat dan Sabtu ada pengajian ibu-ibu dan saya ngisi tausiyah sama mengajar ngaji, fiqih dan lainnya. Sedangkan untuk anak-anak saya ajari ngaji Alquran,” jelas Siti.

Sementara itu di tempat terpisah, Gabriella Nadia Carissaputri (15) menjadi satu-satunya siswa yang mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer tingkat SMP di sekolah Internasional atau yang dikenal Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) di Kota Bogor.

Nadia mengikuti UNBK di Interculture School of Bogor seorang diri lantaran di sekolah tersebut hanya ada dua murid kelas IX. Sedangkan rekan sekelas Nadia, Kenta yang berasal dari Jepang tak diharuskan mengikuti UN.

Selama pelaksanaan ujian, Nadia yang mengenakan kursi roda didampingi seorang guru pendamping Emiria. Dengan teliti, siswi berkebutuhan khusus ini nampak khusyuk mengerjakan soal meski harus dibantu guru pendamping. “Hari pertama berjalan lancar, Nadia mengerjakan soal sesuai kemampuannya,” kata Emiria.

Menurutnya, sempat ada kesulitan saat membacakan soal kepada Nadia. Kendala juga sempat dialami menjelang UN lantaran dirinya harus menyesuaikan isi pelajaran dengan kisi-kisi UN lantaran kurikulum yang digunakan sekolah tersebut berbeda.

“Sebelum UN berlangsung kami latihan simulasi pengerjaan UN lebih dulu selama sekitar satu bulan, ditambah menyesuaikan pelajaran. Tapi, Nadia bisa mengerjakannya dengan baik,” terangnya.

Kepala Sekolah Intercommunity School of Bogor James Leon Anderson mengaku UN kali ini merupakan pengalaman baru di sekolahnya. Sebab, di sekolah Internasional baru tahun ini bisa diselenggarakan UN. “Ini merupakan pengalaman baru bagi sekolah kami,” kata James kepada Metropolitan, kemarin.

Karena pertama kali, dirinya mengakui sempat merasa kesulitan. Hal tersebut disebabkan sekolahnya harus melakukan penyesuaian kurikulum dengan materi-materi yang ada dalam UN. Akan tetapi, sambung James, semuanya dapat dilakukan dengan baik lantaran pihaknya selalu berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. “Kami mematuhi aturan pemerintah dengan mengikuti UN dan semua berjalan lancar,” pungkasnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bogor Fahrudin mengatakan, penyelenggaraan UN bagi sekolah internasional baru diselenggarakan tahun ini. Di Kota Bogor hanya ada satu sekolah internasional yang melaksanakan UN tingkat SMP.

Secara teknis, UN untuk sekolah internasional atau SPK hanya diwajibkan bagi siswa Warga Negara Indonesia saja. UN juga bisa diikuti siswa Warga Negara Asing (WNA), jika akan meneruskan ke sekolah lanjutan di dalam negeri yang mengikuti kurikulum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di Kota Bogor UN tingkat SMP berbasis kertas diikuti 15.358 siswa dari 117 sekolah. Sedangkan UNBK diikuti 500 siswa dari empat sekolah. Di Kabupaten Bogor sebanyak 359 pelajar SMP Negeri 2 Cibinong mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Mereka terbagi atas tiga sesi, seperti sesi pertama pada 08:00 WIB, sesi kedua 10:00 WIB dan sesi ketiga 13:00 WIB. “Persesi sebanyak 120 siswa dari tiga kelas. Total ada 132 komputer yang di standby-kan,” kata panitia ujian, Eris Riswandar.

Lelaki yang juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah di SMP Negeri 2 Cibinong ini mengaku saat ini UNBK baru pertama kali dilaksanakan SMP N 2 Cibinong. Meski demikian, pihaknya sudah menyiapkan berbagai kebutuhan agar ujian dapat berjalan lancar, baik dan sukses.

“Kesiapan sudah seratus persen. Mereka (pelajar) juga semua sudah enjoy dan lebih enak karena dalam pelaksanaannya tanpa harus banyak kertas. Alhamdulillah, listrik kami sudah dibantu PLN untuk menambah daya dan standby serta pihak Telkom juga ikut standby menjaga jaringan tidak kacau,” ujarnya.

Salah satu siswa yang mengikuti UNBK Ahmad Saefullah (14) mengaku tak ada kendala dalam menghadapi ujian Bahasa Indonesia dengan 50 soal tersebut. “Bisa dan tidak ada kendala. Alhamdulillah lancar,” singkatnya.

Selain di SMPN 2 Cibinong, sekolah lainnya yang juga melaksanakan UNBK adalah SMP Negeri 1 Cibinong. Bahkan ini adalah kedua kalinya UNBK digelar di sekolah yang terletak di Jalan Raya Mayor Oking Jayaatmaja, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor itu. Tahun lalu, SMP Negeri 1 Cibinong menjadi satu-satunya sekolah di Kabupaten Bogor yang menggelar UNBK. (fin/rez/c/er/wan)