Pabrik Semen Jawa Bikin Warga Sirnaresmi Tersiksa

by -19 views

METROPOLITAN – Ratusan warga Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi mendemo pabrik PT Semen Jawa atau Siam Cement Group (SCG). Mereka beralasan keberadaan pabrik tersebut memberi dampak buruk bagi warga yang ada di sekitarnya.

Massa mulai menggelar aksi unjuk rasa di depan lokasi Pabrik Semen Jawa sekitar pukul 10:00 WIB. Aksi massa yang tergabung dalam Forum Warga Sukabumi Melawan ini dijaga ketat aparat kepolisian. Selain warga, aksi ini juga mendapat dukungan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, Fraksi Rakyat Sukabumi, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung.

Salah seorang pengunjuk rasa Ade Suherman mengatakan, warga sudah sejak lama meminta operasional PT Semen Jawa atau SCG ditutup. “Keberadaan pabrik cukup menganggu warga terutama menyangkut kesehatan, sosial dan ketentraman,’’ katanya.

Ia mengaku hal ini sudah berlangsung sejak enam bulan terakhir. Masalah yang dikeluhkan warga, antara lain polusi udara yang dihasilkan pabrik dan getaran suara yang mengganggu kenyamanan warga sekitar. Ade mencontohkan, dalam satu malam ada tiga kali suara bising yang keluar dari pabrik. Fenomena ini dinilainya sangat mengganggu kenyamanan warga yang tengah beristirahat.

Lebih lanjut Ade mempertanyakan adanya klaim perusahaan yang menyatakan pabriknya ramah lingkungan. Namun, pada kenyataannya banyak masalah yang menyangkut lingkungan. Saat ini, lanjut dia, ada sejumlah kampung yang terkena dampak yakni Tanjungsari, Talagasari, Subangjaya dan Pangleseran.

Warga lainnya, Esih Nurlista (46) menambahkan, banyak warga yang terkena penyakit gatal-gatal setelah pabrik semen berdiri. Bahkan ada sejumlah balita di Kampung Talagasari, RT 05/06, Desa Sirnaresmi mengalami flek di paru-paru akibat terkena debu pabrik. Dampak lainnya yang dirasakan warga yakni debit air yang makin berkurang drastis. Sehingga warga harus berebut air ketika musim kemarau tiba. “Kami sudah sampaikan keluhan ke perwakilan pemerintah dan perusahaan. Namun, hingga kini belum ada respons dari perusahaan,” pungkasnya.

(rol/els/run)

Loading...