Tolak Bayaran, hanya Ingin Naik Haji

by -0 views

METROPOLITAN.ID – Buku pembelajaran ‘Ini Budi’ cukup melegenda. Penciptanya, Siti Rahmani Rauf (97) yang kini terbaring di tempat tidur menjadi inspirasi. Minat bacanya terutama terhadap sastra tak pernah surut. Bahkan Siti menolak dibayar sepeser pun atas pengabdiannya tersebut.

Kondisi Siti sudah tak memungkinkan beraktivitas fisik terlalu banyak. Anak Siti, Karmeni Rauf, menceritakan penyakit yang diderita sang ibunda bermula pada 2009 saat Siti akan menyambut kedatangan tamu istimewa dari salah satu sekolah.

Dia kemudian memasak makanan, namun saat di dapur terjatuh. Tubuhnya yang segar bugar lalu cedera cukup parah di bagian kaki. Tulangnya melemah. ”Dokter bilang mami harus ganti kakinya pakai kaki palsu tapi mami nggak mau,” kata wanita yang akrab disapa Eni itu.

Sebelum jatuh, Siti masih beraktivitas fisik seperti menyiram tanaman, membereskan rumah sampai mengajar. Namun sejak enam bulan, kondisi fisiknya terus melemah. Semua kegiatan dilakukan di tempat tidur.

Bagi keluarga, Siti adalah sosok yang disiplin dan penyayang. Kehadirannya juga selalu menginspirasi. ”Papa udah gak ada, anak anak sekolah sama mami. Mami itu orangnya sangat peduli dan utamakan sekolah, minimal SMA,” kata Eni.

Eni mengatakan, sang ibunda yang menerima permintaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu Depdikbud) untuk membuat buku belajar membaca menolak diberi royalti buku dan lebih memilih dihargai dengan diberangkatkan haji.

”Setelah dicetak, penerbit tanya mau berapa ini dibayar. Ibu saya tidak mau dibayar dengan uang, ibu saya hanya ingin berangkat haji saja,” aku Eni di kediamannya kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Siti tak menginginkan uang sepeser pun atas jerih payahnya dalam membuat buku membaca ”Ini Budi”. Kecintaan dirinya terhadap dunia pendidikan serta kebutuhan spiritualnya menjadi alasan Siti tak ingin dibayar uang dan lebih ingin diberangkatkan haji.

”Jadi ibu saya tidak terima uang sama sekali. Ibu saya akhirnya pada tahun 1986 sendiri berangkat haji,” kata Eni. ”Kami juga bukan orang bisnis, mami juga nggak minta royalti. Waktu itu mami berangkat haji senilai Rp5 juta,” imbuhnya.

Sebenarnya Eni bersama sang bunda berkeinginan agar buku ”Ini Budi” dipakai kembali untuk anak Sekolah Dasar. Menurut Eni bukan karena buku itu hasil karya bundaya, lebih dari itu buku ”Ini Budi” dinilainya cocok sepanjang zaman. (dtk/er/wan)