News, Sport and Lifestyle

Jakarta, Batavia, dan Orang Mabuk

METROPOLITAN.ID | JAKARTA – Cerita tentang Jakarta takkan pernah habis. Bahkan, orang biasa menyematkan kata ‘Jakarta Punya Cerita’, ‘Jakarta Punya Gaye (Gaya)’ untuk menggambarkan kisah-kisah sejarah panjang Ibu Kota yang terbentang 489 tahun, sejak 22 Juni 15 Juni 1527 hingga 22 Juni 2016.

Tanggal 22 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Kota Jakarta pertama kali pada 22 Juni 1956. Walikota Jakarta (Tahun 1956 Jakarta dipimpin seorang Walikota bukan Gubernur-red) kala itu, Sudiro mengajukan tanggal tersebut ke sidang istimewa DPRD Kota Jakarta dan akhirnya sidang pleno menyepakati tanggal 22 Juni ditetapkan sebagai tanggal berdirinya Kota Jakarta.

Penetapan tersebut didasarkan penelitian sejumlah ahli sejarah, seperti Mr. Mohamad Yamin dan Mr. Dr. Sukanto serta wartawan senior Sudarjo Tjokrosiswoyo.

Sukanto ketika itu menyerahkan naskah berjudul Dari Jayakarta ke Jakarta. Dia menduga bahwa 22 Juni 1527 adalah hari yang paling dekat pada kenyataan dibangunnya Kota Jayakarta oleh Falatehan atau yang juga dikenal dengan nama Fatahillah.

Alwi Shahab, dalam buku Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia menuturkan, pada Juni 1527, Fatahillah diutus Raja Demak yang juga iparnya Sultan Trenggono untuk menyerbu Sunda Kelapa. Penyerangan dipicu kemarahan Demak karena Pajajaran bersekutu dengan Portugis.

Padahal, Portugis dianggap sangat membahayakan Islam yang ketika itu tengah berkembang pesat.

Juni 1527, Laskar Islam pimpinan Fatahillah bergerak dari darat dan laut. “Puncak pertempuran (dengan Portugis) terjadi pada suatu senja di sekitar Sunda Kelapa. Ketika merebut bandar (Sunda Kelapa) Kapal-kapal Portugis yang tiba dari Malaka dihalau. Armada Portugis yang bermaksud mendirikan benteng di mulut Ciliwung sesuai perjanjian dengan raja Pajajaran tidak diizinkan melaksanakan maksud itu. Mereka dihalangi dan diusir dari Teluk Jakarta,” tulis Alwi.

Usai pertempuran itu, Fatahillah memberi nama Jayakarta kepada Sunda Kelapa yang baru direbutnya. Jayakarta berarti Kota yang Jaya, Kota Kemenangan. Nama itulah yang kini menjelma menjadi Jakarta.

Orang Mabuk

Upaya mempertahankan Jayakarta dari penjajah Asing tidak mudah. Nama Jayakarta kerap akan diganti oleh penjajah yang datang ke tanah Betawi. Termasuk upaya mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia.

Dalam buku Hikayat Jakarta, karya Williard A Hanna disebutkan, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen tiba di Jakarta tanggal 28 Mei 1619 dengan kapal pesiar kecil Petit Holland. Dia menaklukkan Jakarta  dengan kekuatan perang, mencakup 17 buah Kapal dan 1.100 prajurit.

Sedangkan Alwi Shahab menceritakan, nama Batavia, konon pertama kali diucapkan oleh seorang serdadu Belanda yang sedang mabuk. Awalnya, pada tahun 1619, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen hendak memberikan nama untuk Jayakarta (Sunda Kelapa) dengan nama De Hoorn, sesuai nama kota kelahirannya di Belanda Utara.

Tapi belum sempat meresmikan nama itu, tiba-tiba dalam sebuah pesta ada seorang serdadu Belanda yang tengah mabuk berteriak. “Batavia, Batavia.”

Entah bagaimana ceritanya, nama Batavia akhirnya digunakan sebagai nama Kota di ujung Kali Ciliwung itu. Jenderal Coen berulangkali berusaha untuk mengubah nama itu. Tapi tidak berhasil.

(http://rimanews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *