Lindungi Anak dari Konten Negatif

by -

METROPOLITAN.ID | JAKARTA – Teknologi informasi dan telekomunikasi yang berkembang cepat semakin memudahkan akses anak-anak terhadap konten internet. Kementerian Komunikasi dan Informatika menyerukan kepada seluruh komponen masyarakat agar bekerjasama untuk melindungi anak-anak dari konten negatif Internet yang merusak, seperti pornografi. “Perlindungan anak ini sulit bila tidak dilaksanakan oleh seluruh komponen, baik masyarakat, orang tua, guru, pemerintah maupun masyarakat sipil.

Untuk itu dibutuhkan gerakan yang massif,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Farida Dwi Cahyarini usai membuka konsultasi publik nasional perlindungan anak online yang digelar di Jakarta, Selasa (21/6).

Ia mengatakan dengan penetrasi internet yang begitu cepat, bahkan jumlah kartu selular yang beredar telah melampaui jumlah penduduk, maka dibutuhkan upaya serius dalam melaksanakan perlindungan terhadap anak. Apalagi teknologi informasi dan telekomunikasi yang berkembang cepat semakin memudahkan akses anak-anak terhadap konten internet.

Menurut dia, tanpa gerakan yang massif baik dari pemerintah, swasta maupun masyarakat, maka perlindungan terhadap anak sulit untuk dilaksanakan. Ia menambahkan, Kementerian Komunikasi dan Informatika selalu mendukung upaya-upaya melindungi generasi muda dari konten-konten negatif internet.

Sebelumnya, Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Agustina Erni mengakui bahwa kekerasan terhadap anak di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Untuk mengatasi hal itu, dibutuhkan langkah konkret dengan melibatkan partisipasi semua pihak.

Saat ini, Kementerian PPPA berupaya keras untuk menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan tersebut. Bahkan lanjut dia, untuk meningkatkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak, Deklarasi Yogyakarta 2016 mengusulkan Pembentukan Dewan Nasional Perlindungan Perempuan dan Anak.

Ia menambahkan, jika kekerasan terhadap anak dibiarkan dipastikan akan mengancam generasi emas yang kelak akan menjadi penerus kelangsungan bangsa. Dalam kesempatan yang sama, Deputi Perwakilan Unicef, Lauren Rumble mengatakan, kerja sama seluruh komponen dalam melindungi anak-anak dari konten megatif tidak bisa lagi dielakan.

Hal ini karena akses internet yang semakin mudah. Sementara itu, guna menjadikan internet sehat Kementerian Komunikasi dan Informatika melaksanakan berbagai program penapisan (filter) terhadap internet seperti trust positif.

Harus Diawasi
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Farida Dwi Cahyarini mengatakan, orang tua harus mengawasi anak dalam menggunakan internet di komputer maupun gawai agar tidak menyalahgunakannya untuk hal negatif.

“Tempatkan komputer di ruang terbuka, yang bisa dilihat oleh orang tua, agar kegiatan anak berinternet bisa terpantau,” kata dia. Selain itu, Farida juga menganjurkan agar orang tua memberikan peraturan kepada anak dalam penggunaan gawai.

Salah satunya dengan tidak memperbolehkan pengunaan kata sandi (password) untuk mengunci gawai. Orang tua juga harus mengecek gawai anak secara berkala untuk mengawasi berkas seperti foto dan video yang disimpan. “Kalau perlu pulsanya dibatasi agar akses internet juga terbatas,” tambahnya. cit/Ant/E-3

(http://www.koran-jakarta.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *