HEBOH DEMAM BIGO ‘SEKS’ LIVE

by -

Demam aplikasi Bigo Live tengah mewabah di kalangan muda-mudi di Bogor. Mulai dari siswa SMA, mahasiswa di kampus hingga karyawan di perkantoran keranjingan dengan jejaring sosial pertemanan ini. Bedanya, Bigo Live menampil­kan siaran langsung aktivitas kita sehari-hari. Namun, makin malam hingga Subuh aplikasi ini mulai disalahgunakan untuk bugil-bugilan. Zaman makin edan!

METROPOLITAN – FENOMENA Bigo Live patut diwaspadai orang tua. Sebab, aplikasi yang tengah nge-hits ini disebut-sebut paling ‘berani’ dibanding aplikasi lainnya. Sebab, banyak me­nampilkan video syur kaum hawa. Contohnya pun banyak berserakan di YoTube.

Ratusan video berisi adegan mesum berserakan di aplikasi Bigo Live. Video itu sengaja dibuat pemilik akun yang didominasi para wanita muda. Dengan mengenakan balutan busana seksi, tak sedikit dari mereka yang memamerkan le­kuk tubuhnya ke muka publik lewat aplikasi Bigo Live.

Bahkan, tak sedikit pula dari pemilik akun yang berani menari erotis dengan gaya menggoda. Bagi sejumlah ma­hasiswa, aplikasi ini sudah jadi bahan obrolan. “Wah seru itu. Bisa nggak kedip kalau non­ton. Kalau di kampus bisa bikin mata melek,” aku seorang mahasiswa universitas swasta di Bogor.

Selain melihat video secara langsung, pengguna juga dapat berinteraksi melalui pesan langsung dari pemilik akun. Pesan pengguna akan ditampilkan bersama pesan pengguna lainnya selama pemilik akun menunjukkan aksinya.

Namun dari sekian banyak pesan yang masuk, tak sedikit yang berkomentar dengan kata-kata cabul dan tak sopan dengan meminta broadcaster menunjukkan aksi sensualnya dan membuka pakaiannya. “Goyang dong neng,” ujar salah satu pengguna dengan akun Hery Moutley kepada broadcaster yang sedang ber­aksi. Di bawahnya, akun lain ikut berkomentar, “Buka dong say­ang sedikit lagi (pakaian, red).”

Komentar bernada mesum seperti itu sangat lazim dite­mui. Geliat perempuan seksi yang mengarah ke pornografi dan pornoaksi kian meleng­kapi sisi miring penggunaan Bigo Live. Kondisi ini tentu sangat disayangkan. Sebab, semua lapisan masyarakat dari beragam usia dapat meng­gunakan aplikasi ini secara cuma-cuma. Akibat muncul­nya aplikasi ini, tak sedikit muda-mudi yang jadi korban pergaulan bebas. Peman­faatan media sosial yang tidak tepat justru jadi bomerang bagi penggunanya.

Kemunculan fenomena ini juga sangat disesalkan ang­gota Komisi IV DPRD Kabu­paten Bogor Dedi Aroza. Ia mengaku khawatir dengan kemunculan aplikasi ini. Porno aksi dan pornografi yang kental di dalamnya dinilai ikut menyumbang degradasi moral di masyarakat. “Ini san­gat berbahaya karena dapat dilihat semua orang, termasuk anak-anak dan remaja. Apa­lagi tayangannya langsung dan banyak komentar tidak sopan,” kata Dedi kepada Metropolitan, kemarin.

Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi pengetahuan yang cukup. Se­bab, selain memiliki dampak positif, kemajuan teknologi juga memiliki dampak efek yang tak kalah hebat jika peng­gunaannya tidak tepat. Di­nas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) selaku lembaga terkait diminta segera mengkaji aplikasi tersebut sebagai bentuk pengawasan. “Kalau memang lebih banyak dampak negatif­nya harus lebih diawasi bahkan bisa diblokir,” ujarnya.

Dedi meminta orang tua melakukan pengawasan lebih kepada anak-anaknya terkait penggunaan teknologi. Se­bab, akses informasi dengan berbagai kontren yang ada saat ini sangat mudah diak­ses melalui telepon pintar yang hampir dimiliki setiap orang dari anak-anak hingga dewasa.

Selain itu, sambung Dedi, pemerintah daerah melalui dinas-dinas terkait harus terus melakukan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal ini untuk mengoptimal­kan pemanfaatan teknologi yang positif dan menghindari penyalahgunaan teknologi ke arah tidak baik.

“Kabupaten Bogor memiliki penduduk yang beragam dari perkotaan hingga pedesaan. Tanpa edukasi yang cukup, teknologi bisa digunakan secara liar dan tak terkendali. Untuk itu, semua pihak harus turut serta dalam melakukan pengawasan,” imbuh Dedi.

Senada, Kepala Unit (Kanit) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bogor Aiptu Isa Ismail menyarankan orang tua lebih mengawasi penggu­naan teknologi anak-anaknya. Kejahatan akibat pengaruh dunia maya seperti media sosial atau sejenisnya menjadi kekhawatiran tersendiri yang harus jadi perhatian serius. “Jangan mudah terpengaruh dan harus lebih hati-hati. Cer­das dan bijak dalam meng­gunakan teknologi agar tidak menjadi korban atau pelaku kejahatan melalui media sosial dan kecanggihan teknologi lainnya,” singkat Isa.

(fin/c/feb/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *