METROPOLITAN – Saat ini profesi penga­cara dipandang ne­gatif oleh masyara­kat. Sebab, banyak pengacara atau pembela hukum justru menjadi oknum yang bermain menyele­wengkan hukum di pengadilan. Hal itulah yang disoroti Ketua Yayasan Satu Keadilan Sugeng Teguh Santoso. Ia pun berpesan kepada 27 calon penga­cara agar selalu menjaga nama baik pengacara ketika dalam menjalankan tugas. ­

“Kalian harus menjunjung tinggi kode etik pengacara dan berpegangan pada sumpah advokat,” ujar Sugeng saat menutup kegiatan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di Jalan Parakansalak, Nomor 1, Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, kemarin.

Menurut Sugeng, PKPA mer­upakan langkah awal menjadi advokat. Para peserta masih harus lulus ujian dan magang dua tahun agar bisa diambil sumpahnya sebagai advokat. Proses tersebut untuk menja­min dan menjaga kualitas pro­fesi advokat agar semakin baik. Sebab, hal itu sudah diatur Undang-Undang Advokat No­mor 18 Tahun 2003. “Sarjana hukum tidak bisa menjadi pengacara jika mereka tidak menjalani pelatihan ini,” kata­nya.

Tujuan kegiatan ini, lanjut Sugeng, mempersiapkan calon-calon pengacara yang profesional, mandiri dan be­retika. Metode ini diterapkan lantaran mayoritas materi yang disampaikan materi praktis. “Metode pengajaran yang diterapkan merupakan me­tode bedah kasus dan dis­kusi,” ucapnya.

Seorang peserta asal Papua, Michael Himan (23), mengaku senang mendapat kesempatan belajar hukum di Yayasan Satu Keadilan. Sebab, menjadi pengacara merupakan impian­nya. “Setelah saya lulus, saya janji akan membenahi lem­baga hukum di Papua,” pung­kasnya.

(del/b/ram/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here