News, Sport and Lifestyle

Sulit Cari Modal, Terpaksa Pinjam ke Bank Keliling

Berbekal modal pas-pasan, warga Kampung RT 02/01, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Ahmad Yani mencoba menggeluti usaha kerajinan kayu sejak 12 tahun silam. Walaupun tertatih-tatih, ia mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya.

METROPOLITAN – KESULITAN permodalan membuat Usa­ha Kecil dan Menengah (UKM) miliknya itu sulit berkembang. Ia hanya mampu memenuhi pesanan dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Padahal, belakangan ini mulai banyak pelanggan yang sudah tahu usahanya sehingga jumlah pesanan mulai banyak. Namun dirinya terpaksa memilih pesanan yang berasal dari pe­langgan yang masih berasal dari Bogor.

 “Sebenarnya pesanan sudah banyak. Tetapi karena tidak ada modal, terpaksa tidak semua pesanan saya sanggupi,” ce­tusnya.

Kekurangan modal membuat ia be­rencana mengajukan pinjaman ke bank, tetapi niatan tersebut terhenti lantaran pihak bank meminta agunan sebagai syarat pinjamannya. “Kayaknya untuk da­pat pinjaman dari bank itu mustahil, se­bab saya tidak punya barang atau surat berharga yang bisa dijaminkan,” ujarnya.

Setelah tak hasil mendapatkan pin­jaman dari bank, akhirnya ia mencari pinjaman yang mudah tanpa proses administrasi yang rumit. Ternyata hanya bank keliling yang menurutnya mem­beri persyaratan mudah untuk memin­jam uang. “Untuk modal lebih mudah, saya pinjam ke bank keliling yang cu­kup fotokopi sebagai syarat lalu dana sudah cair. Walaupun bunga tinggi, apa boleh buat,” ujarnya.

Yani, sapaannya, terpaksa harus jatuh kecengkraman bank keliling karena mi­nimnya perhatian Pemkab Bogor. Sebab selain tidak membantu permodalan, pe­merintah juga tidak pernah melakukan pembinaan dalam bentuk pelatihan atau kegiatan pembinaan apa pun. “Jangan kan bantuan, pembinaan pun tidak ada. Bagaimana usaha kami bisa ber­kembang,” pungkasnya.

(pbn/sal/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *