SHARE

Aku menatap foto dalam bingkai emas di depanku penuh arti. Foto seorang pria tampan dengan senyum memikat. Pria yang sudah tiga tahun menjalani hubungan bahkan sudah bertunangan denganku. Sejak pandangan pertama, ia sudah membuatku jatuh cinta dan membuat duniaku berwarna. Ia jadi kebanggaanku sehingga mampu melumerkan gunung es dalam hatiku.

Setelah lulus SD saya tinggal kembali dengan ayah bersama ibu tiri dan kedua saudara tiri saya. Perlakuan ibu tiri saya masih sama seperti dulu. Ayah yang tak tahan melihat saya terus dianiaya ibu tiri akhirnya menitipkan saya ke keluarga ayah yang lain, sebut saja Om Imran, dia memiliki seorang putri yang seusia dengan saya. Hari demi hari saya lalui di rumah Om Imran. Hingga berjalan dua tahun, saya merasa sifat Om Imran berubah.

Om Imran sepertinya lebih sering mem­perhatikan saya daripada anak dan istrinya. Hal itu membuat anak dan istrinya cemburu karena mereka berpikir bahwa saya dan Om Imran ada hubungan. Padahal tidak sama sekali. Sejak saat itu saya jaga jarak dengan Om Imran. Pada malam hari, 20 April 2009, saya tidur di depan TV bersama sepupu saya. Saat tengah malam tiba, saya merasa ada yang menggerayangi tubuh saya. Saya pun terbangun dan melihat Om Imran sedang berusaha melepaskan baju dan celana saya.

Saya sontak berteriak dan orang di rumah pun semuanya terbangun. Namun bukan­nya mengaku, Om Imran malah menuduh saya telah menggodanya. Saya hanya me­nangis dan esok hari saya bercerita ke­pada ayah. Ayah memeluk saya dan ber­kata, “Maafin ayah karena telah memisa­hkan kamu dengan ibumu. Semula ayah berharap kehidupan kamu akan lebih baik daripada ikut ibu. Tetapi ternyata ayah salah besar, justru karena ayah, kamu lebih menderita”. Saya pun hanya bisa menangis dan berdoa semoga co­baan ini segera berakhir. Amin. (els/run)

Seperti yang diceritakan April ke ce­ritacurhat.com.

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY