SISWA SDN Mutiara yang berada di Kampung Pasirbayur, Desa Cibeber II, Kecamatan Leuwiliang, tak seberuntung sekolah lain. Setiap harinya mereka belajar dalam satu ruangan yang hanya disekat triplek.

Tak hanya itu, bangunan sekolah pun kurang, plafon dan atap kelas banyak yang keropos. Saat hujan, buku pelajaran selalu basah kebocoran.

Kepala SDN Mutiara A Yogi Sugianto menuturkan, sekolah ini hanya memiliki enam ruang kelas saja. Lima ruang diman­faatkan untuk kegiatan belajar mengajar dan satu ruang lagi dimanfaatkan sebagai kantor guru.

Karena kekurangan ruang kelas, maka sesuai kesepakatan guru dan orang tua siswa akhirnya satu ruang belajar diman­faatkan siswa kelas dua dan tiga dengan hanya dibatasi triplek. “Selain kelas diba­tasi triplek, ketika hujan, ruang kelas becek akibat atap sekolah yang bocor,” keluhnya.

Yogi mengaku kondisi kelas yang bocor dan disekat triplek sering dikeluhkan siswa karena proses belajar mengajar jadi tak maksimal. Tak hanya itu, Kon­disi dinding serta lantainya sudah ba­nyak yang rusak.

Sekolah yang sudah melahirkan para PNS dan TNI itu saat ini kekurangan me­beler seperti bangku dan kursi. Kerusakan dan kekurang kelas itu sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor sejak 2014. Namun, hingga kini belum juga ditanggapi. “Kami sangat berharap ada tambahan ruang belajar dan guru agar siswa kami sebanyak 84 orang menda­patkan pengajaran dan fasilitas yang layak,” pungkasnya.

 (ads/c/yok/run)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here