Wah, Kita Dapat Berjumpa Geisha Di Kyoto!

by -

METROPOLITAN – Traveler yang melancong ke Kyoto, Jepang pasti akan berjumpa wanita dengan make up putih tebal dan berjalan cepat sekali. Itulah dia, Geisha.

Malam melarut di Gion, Kyoto, Jepang. Rumah-rumah asli Jepang masih berdiri kokoh di salah satu sudut di Kyoto ini. Di antara ribuan turis, beberapa perempuan berwajah putih pucat berjalan cepat-cepat.

Setelah puas keliling kawasan tua Kyoto, saya dan rombongan bisa menghabiskan waktu selepas gelap di sepanjang Gion.

Lorong-lorong di kawasan Gion, atau dalam bahasa Indonesia berarti perak, mulai temaram. Salah satu yang ditunggu di kawasan itu, selain rumah kedai/restoran yang jadi objek foto karena keunikan bangunannya, adalah melihat langsung Geisha.

Geisha merupakan profesi unik yang berjalan ratusan tahun di Jepang. Dalam bahasa Jepang, Geisha berarti ‘orang seni’ atau orang yang terampil dalam seni tradisional Jepang seperti musik, tari, menyanyi, dan upacara minum teh. Namun dalam perjalanannya, Geisha memiliki perkembangan makna seperti wanita penghibur.

Melihat Geisha lebih dekat (Andi Saputra/detikTravel)Melihat Geisha lebih dekat

Bagi yang ingin melihat langsung Geisha, harus sabar menunggu sebab mereka baru muncul di kawasan itu sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Di dalam keremangan gelap, mereka berjalan cepat menuju rumah makan. Pilih hari weekend atau saat musim liburan agar bisa lebih beruntung melihat langsung mereka.

Di antara mereka ada yang diantar langsung menggunakan taksi mewah dan turun tepat di depan pintu masuk tempat makan. Dalam hitungan detik, mereka bergegas memasuki tempat makan itu.

Jangan buru-buru pergi Geisha (Andi Saputra/detikTravel)Jangan buru-buru pergi Geisha

Tak sedikit turis yang langsung mengambil kamera dan memfoto mereka. Tanpa ekspresi, Geisha yang telah ada sejak ratusan tahun lalu itu tidak akan menanggapi kamera yang menuju mereka. Geisha-Geisha itu tidak akan menutup muka atau marah, asal pengunjung memberi mereka jalan dan tidak mengganggu.

Muka mereka datar, tanpa ekspresi. Bedak putih tebal yang menutup mukanya tidak berkerut sama sekali. Tak ada senyum, tak ada lirikan mata. Baju kimono lengkap menambah anggun jalan mereka yang bergegas dengan langkah sangat cepat.

Turis rela menanti di pinggir jalan demi Geisha (Andi Saputra/detikTravel)Turis rela menanti di pinggir jalan demi Geisha

Nah, bagi yang ingin tahu seni tradisional Jepang, di Gion terdapat gedung seni Gion Corner. Untuk pentas reguler, pengunjung dapat menonton pada pukul 17.00 dan 19.00 waktu setempat.

Dalam satu kali pentas, akan ditampilkan enam kesenian tradisional seperti pesta minum teh, Noh, Kabuki dan Bunraku. Pentas per acara yang aslinya memakan waktu lama itu semuanya dikemas dalam durasi kurang dari 2 jam.

Untuk menontonnya dikenakan tiket 2.500 Yen atau sekitar Rp Rp 295 ribu. Harga yang pantas untuk melihat kesenian Jepang yang telah muncul dari abad ke-15 silam.

SUMBER : detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *