Fenomena Alam Hujan Es Yang Sudah Biasa Terjadi

by -

METROPOLITAN – Wilayah Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan es kemarin sore. Meski terdengar aneh, namun rupanya hujan es adalah fenomena alam yang biasa terjadi.

“Itu adalah pergerakan monsun di mana musim pancaroba akan mulai. Hujan es biasa. Sebenarnya kristal, bukan es. Itu akibat penumpukan partikel dalam awan sebelum hujan,” ujar peneliti perubahan iklim Prof Wayan Suparta.

Wayan merupakan peneliti sekaligus pengajar di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kini Wayan tengah meneliti dampak perubahan iklim dengan mencari petir di Antartika.

Mengenai hujan es atau kristal, menurut Wayan, biasanya terjadi pada wilayah yang lingkungannya relatif sejuk dan sering hujan. Wilayah khatulistiwa yang beriklim tropis pun tetap bisa mengalami hujan es.

“Itu akibat awan cumulonimbus (Cb) yang mengalami pendinginan sebelum sempat mencair atau jatuh ke bumi. Kalau di daerah musim sejuk itu akan menghasilkan hujan salju,” papar Wayan.

Hujan es normalnya terjadi hanya beberapa menit hingga beberapa jam saja. Selain itu hujan es relatif tidak menimbulkan kerusakan besar.

Sebelumnya hujan es mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada Selasa sore (28/3). Kristal-kristal air turun disertai hujan lebat dan petir.

BMKG pun langsung memberi penjelasan bagaimana fenomena ini bisa terjadi. Indikasi terjadinya hujan lebat atau hujan es disertai kilat/petir dan angin kencang berdurasi singkat yakni:

– Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah.

– Udara terasa panas dan gerah akibat adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) disertai dengan kelembapan yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembapan udara di lapisan 700 mb (> 60%).

– Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan kumulus (awan putih berlapis-lapis). Di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

– Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam yang dikenal dengan awan kumulonimbus.

– Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat.

– Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.

– Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba. Apabila hujannya gerimis, kejadian angin kencang jauh dari tempat kita.

– Jika 1-3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

SUMBER: DETIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *