METROPOLITAN – Sepuluh SD negeri di Kota Bogor dijadikan sekolah percontohan bagi sekolah-sekolah lain. Di antaranya SDN Cimanggu Kecil, SDN Panaragan 1, SDN Julang, SDN Pondok Rumput, SDN Batu Tulis 1, SDN Cipaku Perumda, SDN Bangka 3, SDN Tajur 2, SDN Cibalagung 3 dan SDN Cimahpar 2.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bogor Fahrudin mengatakan, tujuannya menjadikan sepuluh sekolah tersebut sebagai sekolah yang baik dalam semua unsur. Sehingga nantinya dapat digunakan sebagai percontohan bagi sekolah lain di sekitarnya. ”Mudah-mudahan sekolah model itu nantinya menjadi percontohan bagi sekolah di sekitarnya. Sehingga, dapat meningkatkan kualitas mutu lembaga pendidikan dan mampu menjadi model yang patut dicontoh sekolah lainnya. Sehingga keberadaannya dapat memberi dampak positif kepada sekolah-sekolah di sekitarnya,” ujarnya kepada Metropolitan, kemarin.

Program sekolah model dilaksanakan karena pada saat itu, citra sekolah sebagai lembaga pendidikan formal masih dianggap sebagai lembaga pendidikan kelas dua setelah sekolah umum. Kerena dalam realitasnya memang banyak sekolah memiliki kelemahan dalam praktik penyelenggaraan pendidikan sekolah, yaitu dalam hal manajemennya, profesionalitas gurunya, masalah kualitas lulusannya dan sarana pra-sarana. ”Tahap awal pengembangan sekolah model ini, kami memilih sekolah negeri yang memiliki persyaratan tertentu, misalnya kelengkapan guru, sarana, lahan dan peserta didik guna memberdayakan sekolah dalam menghadapi era globalisasi yang ditandai persaingan bebas dalam segala bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Selain itu, menjadi acuan dalam penyelenggaraan sekolah lainnya baik negeri maupun swasta serta sebagai sekolah pembina terhadap sekolah setingkat di sekitar wilayahnya dalam bidang kurikulum, pengajaran dan administrasi,” terangnya.

Tidak itu saja, sekolah model juga nantinya sebagai tempat penyelenggaraan pelatihan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui fasilitas Pusat Sumber Belajar (PSB) yang disediakan dan dijadikan sebagai fasilitator (pelayan fasilitas belajar) bagi sekolah sekitarnya yang ingin memanfaatkan fasilitas belajar yang ada, seperti perpustakaan, laboratorium, work shop keterampilan secara bergilir (time sharing). ”Ini hanya berlaku bagi sekolah model yang dilengkapi fasilitas pelatihan atau fasilitas PSB,” paparnya.

(tur/ar/mam/dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here