SHARE

METROPOLITAN – Sebanyak 18.804 ibu hamil ikut jalani tes dan konseling HIV terhitung sejak 2014 sampai Maret 2017. Data yang tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, 3.811 warga sampai Maret 2017. Jumlah itu dari total populasi Kota Bogor sebanyak 126.212 orang.Bogor positif HIV sejak 2005

“Dari jumlah penderita HIV positif baru 752 ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS, red) yang mendapatkan ARV. Enam orang di antaranya ibu hamil,” ungkap Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Bogor Ratna Yunita.

Menurut Ratna, setiap ta­hun diprediksi ada 21 ribu ibu hamil di Kota Bogor. Dari jumlah tersebut, 18.804 ibu hamil yang telah menjalani tes HIV merupakan capaian yang signifikan. “Tes dan konsel­ing HIV bagi ibu hamil dalam mencegah infeksi baru dapat dilakukan di seluruh puskes­mas dan rumah sakit yang ada di Kota Bogor,” katanya.

Ia menyebutkan, sesuai per­aturan daerah, setiap rumah sakit dan puskesmas wajib menyediakan layanan tes HIV. Terutama bagi ibu hamil dan pasangan calon pengantin. Tes VCT HIV dijalankan di 24 puskesmas dan seluruh rumah sakit di Kota Bogor. Selain itu, layanan Mobil Curhat juga menyediakan pemeriksaan tes HIV.

“Kebanyakan pemeriksaan HIV terjaring melalui Mobil Curhat. Keberadaan mobil ini cukup diminati karena hampir menjangkau seluruh masyara­kat. Misalnya kita buka di sekolah, bisa 200 orang yang diperiksa. Bahkan kita pernah buka layanan di mal juga, peminatnya banyak. Karena gratis mungkin,” ujar Ratna.

Ia merincikan, pada periode Januari sampai Desember 2016, terjaring 7.046 ibu hamil yang melakukan tes dan ada 22 ibu hamil yang dinyatakan positif HIV. Data terbaru dari Januari sampai Maret 2017 tercatat 2.121 ibu hamil men­jalani tes, empat orang positif. “Dari 18.804 ibu hamil yang sudah menjalani tes HIV dari kurun waktu Januari 2014 sampai Maret 2017, ada 91 ibu hamil positif HIV,” katanya.

Pemeriksaan HIV kepada ibu hamil juga sesuai instruksi dari Menteri Kesehatan yang mengharuskan seluruh Dinkes daerah menggalakkan Pro­gram Pencegahan Penularan HIV/AIDS dari Ibu kepada Anak (PPIA).

Sejak 2005, kelompok berisiko HIV/AIDS mengalami pergeseran. Yang awalnya banyak terjadi pada peng­guna narkoba dengan jarum suntik, pelanggan Pekerja Seks Komersial (PSK), pasangan homo seksual hingga waria, kini terjadi di kalangan ibu rumah tangga.

Untuk mengurangi jumlah penderita baru, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga akan melakukan pemerik­saan HIV/AIDS kepada pa­sangan yang akan menikah atau calon pengantin. Hal ini untuk mencegah penularan terhadap pasangan.

Saat ini Dinkes Kota Bogor telah memperluas layanan dis­tribusi obat ARV bagi ODHA kesebelas fasilitas kesehatan terdiri dari tujuh puskesmas dan empat rumah sakit. Den­gan begitu, penderita HIV dapat menjangkau layanan secara efektif, efisien dan cepat.

(rep/feb/run)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY