Keberadaan Kolam Retensi Cieunteung, di Kabupaten Bandung sangat diperlukan. Hal ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi banjir di selatan Kabupaten Bandung yang terus berulang setiap musim hujan.

BANDUNG- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Daddy Rohanady mengatakan, pemerintah harus mengakselerasi pembangunan danau buatan tersebut. Berbagai kendala yang ada harus segera dituntaskan terutama menyangkut ang­garan. ”Berapa miliar yang diperlukan? Kami mohon segera dianggarkan, baik di (pemerintah) pusat mau pun provinsi,” kata Daddy di Bandung, beberapa waktu lalu. Dia pun mengkritisi proses pembe­basan lahan terkait pembangunan itu yang menurutnya lamban. Padahal, sebelumnya sempat ditargetkan pembebasan lahan tuntas pada tahun ini.

”Makanya pusat harus terus didorong. Kita akan koordinasikan dengan Dinas PSDA, agar mendorong BBWS,” ujarnya.

Salah seorang tokoh Kabupaten Bandung, Dimyati Warsajaya, mengatakan, banjir yang terjadi di Kabupaten Bandung ini dikarenakan hilangnya sejumlah polder (daerah penampungan air) di kawasan tersebut. Padahal, kata dia, beberapa pu­luh tahun ke belakang, di Bandung selatan ini banyak dibuat polder untuk menampung air dari kawasan utara.

Polder-polder tersebut, lanjutnya, kini telah berubah menjadi kawasan pemuki­man sehingga tidaklah heran jika debit air tidak tertampung. ”Polder penam­pungan air jadi pemukiman. Seperti di Baleendah, itu dulu polder untuk air,” ka­tanya. Selain itu, menurut legislator tahun 1980-an itu, banjir pun diperburuk oleh kebiasaan warga yang membuang sampah ke sungai. Tumpukan sampah menyebab­kan sedimentasi sungai sehingga debit air yang tertampung berkurang.

”Kesadaran masyarakat tidak ada. Walau­pun satu kresek (per orang), kalau dikali sekian juta, ya jadi banyak,” katanya. Oleh karena itu, dirinya meminta pemerintah segera membangun Kolam Retensi Cie­unteung sebagai polder penampung air. Cara ini diyakini menjadi solusi ampuh agar membebaskan Bandung selatan dari banjir.

”Saya mengapresiasi rencana membangun polder itu. Ini harus segera diwujudkan. Karena banjir ini kan musiman, setiap ta­hun ada,” katanya.

(adv)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here