News, Sport and Lifestyle

Sudah Beristri, Aku Tak Bisa Melupakan Cinta Pertama

Ini cerita soal cinta pertama yang tak per­nah bisa dilupakan. Sekuat apa pun usaha jika kehendak Tuhan berkata lain, siapa pun orangnya pasti tak dapat menolak. Itulah yang aku alami

NAMAKU Dian, usia 32 tahun. Aku le­laki mapan karena punya usaha sendiri. Empat tahun menjalin hubungan, putus-sambung berulangkali, tapi ujung-ujungnya menikah dengan orang lain. Aku merasa cintaku belum cukup untuk meminang Saskia, cinta pertamaku itu. Dia seorang perawat. Kami saling mencintai dan hing­ga kini tak pernah bisa saling melupakan. Kami berdua berusaha move on tapi sel­alu saja gagal. Kami juga kerap putus tapi nyambung lagi. Tapi tetap saja hambatan dari orangtua Saskia tidak pernah luluh dengan lembutnya cinta kami.

Aku pertama kali mengenal Saskia pada 2007. Perkenalannya hanya melalui telepon yang diberikan saudaraku. Dua bulan kemudian, setelah behubungan intens, mereka memutuskan bertemu. Dari pertemuan itu, aku tidak pernah menyangka kalau bakal sama-sama jatuh cinta. Bahkan, cinta kami begitu dalam sampai-sampai mereka mantap untuk menatap jenjang rumah tangga.

Namun sayang seribu sayang, hubungan kami ditentang orangtua Saskia. Orang tua Saskia menyebutku kere. Dia juga bilang kalau aku memakai ilmu hitam sehingga Saskia bertekuk lutut. Tapi Saskia mem­percayaiku tidak melakukan hal itu. Kami pun menemukan jalan keluar sementara, yakni hubungan secara backstreet alias diam-diam. Selama satu tahun kami men­jalani hubungan itu. Entah mengapa me­reka jadi semakin sering putus nyambung. Restu belum juga didapat dari orangtua Saskia. Hubungan kami pun tarik ulur.

Semakin lama aku semakin frustasi. Aku punya pikiran untuk mencari perempuan lain saja yang bisa dapat restu dari orang tuanya. Pada penghujung 2008 secara tidak senga­ja bertemu dengan teman kuliah. Dari situ kami semakin sering berhubungan via pesan singkat atau telepon. Saat itu kebetulan hu­bunganku dengan Saskia sedang putus.

Suatu Suatu hari ketika sedang bersama Saskia, diam-diam Saskia membuka isi pesan singkat di handphone-ku. Dia ke­cewa bukan main. Saat itu dia bilang ke saya betapa teganya saya. Saat di perja­lanan pulang kami diguyur hujan. Saya memilih untuk meneduh, sementara dia menangis sambil terus meneruskan per­jalanan meski hujan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *