News, Sport and Lifestyle

Polisi Gerebek Gudang Penimbunan Bawang Putih Di Kayumanis

METROPOLITAN – Di tengah harga bawang yang melejit, polisi menggere­bek gudang yang ada di Kampung Pon­col, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanahsareal. Bersama Dinas Perindustri­an dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bogor dan Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ), polisi menemukan puluhan ton bawang putih di dalam gudang.

Sedikitnya ada 42 ton bawa­ng putih yang dikemas dalam karung-karung. Di antaranya 17 ton dimuat di truk besar, sedangkan sisanya 25 ton ada di truk kontainer.

Saat penggerebekan, gu­dang tersebut tampak ramai oleh karyawan. Ada 30 kary­awan yang bekerja di sana. Mereka didominasi ibu rumah tangga yang sengaja direkrut untuk mengupas bawang.

Hariani (34), warga Kampung Pabuaran mengaku sudah bertahun-tahun bekerja jadi pengupas bawang. Satu kilo­nya ia hanya dibayar Rp300. “Sudah lama di sini. Kerja dari pagi jam tujuh sampai nanti sore,” ujar Hariani.

Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota Kompol Condro Sasongko mengaku sengaja melakukan penggerebekan untuk me­nindaklanjuti dugaan spekulasi monopoli dan penimbunan ba­han pokok menjelang Rama­dan. Terlebih di pasaran jumlah bawang putih harga sudah mulai berbeda dari satu pasar ke pasar lainnya.

“Ini upaya preventif sekaligus kuratif jelang Ramadan sesuai perintah Kapolri untuk me­nindaklanjuti adanya dugaan bahan pokok yang ditimbun,” ujarnya kepada Metropolitan.

Dari hasil sidak ini tim Satgas Pangan mendapati dua truk yang sedang membongkar bawang putih di gudang di Kampung Poncol di Tanah­sareal, dengan berat 8,5 ton, sedangkan ketika tim Satgas Pangan melakukan sidak di Pasar TU ditemukan satu kon­tainer dengan berat 25 ton.

“Kita masih terus meleng­kapi dokumen-dokumen yang kita temukan dari gudang. Kita juga akan selidiki apakah memang bawang putih ini didistribusikan ke pasar atau ditimbun,” terangnya.

Condro juga mengaku ma­sih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Beberapa orang dimintai keterangan sebagai saksi. Beberapa dokumen juga diamankan untuk di­dalami. Hasil pemeriksaan sementara, pemilik mengaku sebagai importir. Akan tetapi, praktiknya ternyata pemilik juga merupakan distributor beragam komoditas sayuran seperti kacang merah, biji pala, cabe kering dan bawang bombai untuk disalurkan ke pasar-pasar.

“Pemiliknya mengaku seb­agai importir, sejauh ini ma­sih kita dalami keterangan­nya. Satu hal yang ditemukan adalah pemilik tidak memiliki izin mendirikan bangunan,” paparnya.

Sementara itu Humas PDPPJ Sulhan menjelaskan bahwa sidak yang dilakukan pihaknya untuk mengantipasi adanya lonjakan harga bawang pu­tih, karena harga di pasaran sendiri menurutnya sudah berbeda. Rata-rata kenaikan harga sembako itu tiga hari sebelum Ramadan. “Makanya kalau harganya naik ini aneh, karena ketersediaan bawang putih cukup banyak,” katanya.

Selain itu, menurut Sulhan, harga jual bawang putih seka­rang Rp 47 ribu per kilogram, ini harga baru. Dan ketika minggu pertama Mei, harga bawang putih Rp41 ribu kemudian naik di minggu kedua sampai Rp56 ribu, tetapi hari ini kembali Rp47 ribu. “Padahal Kementan kemarin sudah mengatakan bahwa harga bawang putih paling mahal Rp30 ribu. Nah makanya heran juga jika harga jualnya cukup tinggi,” jelasnya.

(mam/c/feb/dit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *