SHARE

METROPOLITAN – Sungguh bernasih tragis Bunga (14). Setelah diperkosa Toni dan Jamaludin di komplek pemakaman di Teluk Pakedai, Kalimantan Barat, ia kini malah mendapat teror.

Pasalnya, saat kasus tersebut dilimpahkan ke kejaksaan dan menunggu persidangan, Bunga dan keluarganya malah mendapat teror dari puluhan orang.

Akhirnya, keluarga Bunga pun melaporkan hal itu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Kalbar.

Wakil Ketua KPAID Kalbar, Hasanah mengatakan, korban dan keluarganya meminta perlindungan atas teror yang didapatnya itu.

Hasanah pun memastikan, pihaknya akan mengawal proses hukum dugaan kasus perkosaan anak di bawah umur tersebut.

Menurut dia, ada beberapa hal yang perlu dipertegas karena korban tidak memiliki bukti autentik.

“Bukti lapor ternyata tidak di tangan korban. Surat-surat pemanggilan juga tidak di tangan korban,” ujarnya sebagaimana dilansir Prokal (grup pojoksatu.id).

Sebagaimana penuturan M (52), orangtua korban, anaknya itu diperkosa pelaku pada Maret 2017 silam dan sudah ditangani Polsek setempat dan sekarang dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Mempawah.

Namun, pihaknya sering mendapat intimidasi dari 20 orang yang diduga teman Toni dan Jamaludin.

“Mereka mendesak mencabut laporan bahkan meminta damai. Dia bilang kami, kan, kumpul bersama keluarga, tapi jangan tidak tahu jak kalau tidak mau damai,” tutur M menirukan orang-orang yang mengancamnya itu.

Walaupun kerap diancam, dia mengaku tidak akan mau berdamai karena pelaku telah merenggut masa depan Bunga.

Bahkan, Bunga dianiaya secara sadis. Pipi dan paha siswi kelas dua SMP itu dipukul sampai lebam membiru. Para pelaku juga merampas handphone Bunga.

Di sisi lain, ibu korban pun direpotkan dengan proses persidangan di Pengadilan Negeri Mempawah.

Diketahui, Jarak Teluk Pakedai dengan Mempawah cukup jauh, dan tak mungkin untuk ditempuh dalam waktu singkat.

“Tidak ada surat panggilan (sidang), hanya dibilang “besok sidang jam sepuluh”, tapi pemberitahuan itu sore hari. Bagaimana mau pergi. Apalagi saya orang yang tidak mampu,” beber M.

Sebelum persidangan, M dan keluarnya juga diteror sejumlah orang via telepon. Mereka diminta untuk tidak menjawab pertanyaan majelis hakim di PN Mempawah.

Nahasnya, M tidak mengetahui identitas pengancam itu.

“Kami memilih mengungsi ke tempat keluarga. Saya minta hukum ditegakkan,” pungkas M.

SUMBER : POJOKSATU.ID

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY